← Search

Data · dataset · 2025

Permainan Tradisional Etnis Sentani, Papua

Listed in RIN Data Repository

Permainan Tradisional Sentani Papua I. Rukha Hasai 1.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama rukha hasai, yang diambil dari nama salah satu alat dalam permainan ini.

Description

Alat yang digunakan dalam permainan ini adalah beberapa batu kecil yang memiliki warna mencolok atau terang. Permainan ini dimainkan oleh hampir seluruh masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura.

Rukha hasai berasal dari dua kata rukha dan hasai. Rukha berarti batu dan hasai berarti buang. Permainan rukha hasai berarti menangkap batu yang dilempar ke dalam danau. 1.2 Peristiwa/Waktu Permainan rukha hasai tidak terikat pada peristiwa atau waktu tertentu.

Read the rest (284 more)

Permainan ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau adat-istiadat masyarakat Sentani. Biasanya permainan ini dimainkan pada siang hari atau sore hari di saat cuaca cerah. 1.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Mata pencaharian penduduk di Sentani adalah meramu dan menangkap ikan. Rumah-rumah penduduk didirikan di tepi danau atau di atas danau.

Oleh karena itu, masyarakat di daerah ini mengembangkan jenis permainan atau permainan menyelam sambal menangkap batu. Permainan ini bertujuan untuk melatih keterampilan menahan napas dan kecepatan menangkap benda melayang. Anak-anak yang sudah mahir menyelam dan menangkap benda bergerak diharapkan kelak setelah dewasa mampu mencari atau menangkap ikan untuk memberi makan keluarganya.

Sejak dini anak-anak mulai belajar berenang, menyelam, dan menangkap ikan. Salah satu cara yang digunakan untuk melatih kemampuan ini maka dibuatlah permainan rukha hasai. Dalam arti yang luas, permainan ini mempersiapkan anak-anak Sentani untuk menggantikan peranan orang tuanya untuk mencari ikan di danau dengan cara menyelam (rile).

Dalam pandangan masyarakat Sentani orang-orang yang pandai mencari ikan dengan cara menyelam mempunyai nilai keutamaan tersendiri. Pemuda-pemuda yang rajin dan pandai menangkap ikan akan menjadi incaran orang tua untuk dijadikan menantu, sebab pemuda itu akan mampu menjamin kehidupan keluarga, termasuk orang tuanya. 1.4 Latar Belakang sejarah dan Perkembangannya Sejak dahulu permainan ini sudah ada di kalangan masyarakat Sentani dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Permainan ini biasanya diajarkan di rumah inisiasi (khomboyeu). Tujuan permainan ini adalah untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Sentani menjadi pemuda yang Tangguh dalam mencari nafkah di kemudian hari. Rumah khombeyeu hanya digunakan olah anak laki-laki, anak perempuan dilarang untuk masuk. 1.5 Peserta/Pemain 1.5.1 Jumlah Pemain Pemain terdiri atas satu orang yang bertugas untuk melemparkan rukha hasai ke danau dan beberapa orang anak-anak.

Petugas atau pemimpin permainan yang melempar rukha hasai biasanya orang dewasa. 1.5.2 Aturan Permainan Anak-anak yang mengikuti permainan rukha hasai diharuskan bersiap di permukaan danau, sementara pelampar rukha (batu) berada di antara mereka. Ketika rukha hasai telah dilemparkan ke danau, anak-anak menunggu beberapa saat untuk menyeburkan diri ke danau untuk menangkap batu-batu itu. Batu yang dapat ditangkap hanya batu yang masih melayang di dalam air.

Batu yang sudah sampai di dasar danau sudah tidak dapat lagi diambil. Oleh karena itu, dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam menyelam dan menangkap batu-batu itu. Setelah pemain memperoleh batu-batu, selanjutnya adalah segera naik ke dermaga untuk menghitung jumlah batu yang berhasil ditangkap. 1.5.3 Konsekuensi Kalah Menang Pemain yang menangkap batu paling banyak dinyatakan sebagai pemenang dalam permainan rukha hasai ini. 1.5.4 Usia Permainan ini biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja.

Penggolongan usia ini ada maksudnya, yakni sebagai sarana untuk melatih kemampuan anak dan remaja dalam menahan napas, menyelam, dan menangkap batu. 1.5.5 Jenis Kelamin Permainan rukha hasai ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Karena kelak tidak hanya laki-laki saja yang dituntut untuk menangkap ikan tetapi juga perempuan juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menangkap ikan dengan cara rile. 1.5.6 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan rukha hasai ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 1.6 Peralatan/Perlengkapan Peralatan atau perlengkapan yang digunakan dalam permainan rukha hasai adalah sebagai berikut. a) Rukha, yaitu bebatuan kecil yang memiliki ukuran yang hampir sama. Biasanya bebatuan ini berwarna merah atau warna yang cerah. Alasan dipilih batu yang berwarna agar ketika batu berada dalam air dalam dilihat dengan jelas oleh para memain. b) Danau (Buyakhala), yaitu tempat dilaksanakannya permainan rukha hasai.

Tempat yang dipilih sebagai tempat perlombaan adalah danau yang agak dalam agar batu yang dilempar dapat melayang agak lama sebelum mancapai dasar danau (wabo). 1.7 Jalannya Permainan a) Persiapan Semua pemain masuk ke dalam danau dan berusaha untuk tetap terapung hingga permainan dimulai. Pelempar batu berdiri di dermaga sambil menggenggam batu merah (rukha hasai). Pelempar batu memastikan saat itu cuaca cerah dan kejernihan air di danau cukup baik. b) Inti Permainan Pemimpin permainan memberi aba-aba untuk bersiap melakukan perlombaan.

Ia lalu melemparkan rukha hasai ke dalam danau sambil menghitung sampai beberapa saat. Pemain mengambil ancang-ancang untuk menyelam dan memburu batu yang melayang ke dalam danau. Ketika kode sudah diberikan pemimpin permainan, pemain segera menyelam ke dalam danau.

Meraka salaing berebut untuk mendapatkan batu-batu tersebut. Mereka bererbut secara sportif, batu yang telah diambil lawan main tidak boleh direbut. Setelah semua batu dapat terambil oleh peserta atau ada batu yang tidak tertangkap dan jatuh ke dasar danau (wabo), maka permainan dinyatan telah selesai.

Pemain segera berenang ke permukaan air dan menuju dermaga. c) Penentuan Pemenang Pemain yang berhasil mendapatkan batu terbanyak dinyatakan sebagai pemenang dalam permainan rukha hasai. Pemimpin permainan memang tidak memberi hadiah kepada pada pemenang, tetapi pemenang tetap merasa bangga karena kemenangan ini akan diceritakan kepada orang-orang kampung. 1.8 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini sudah jarang dimainkan lagi, namun demikian peranannya masih ada.

Mengingat mata pencaharian masyarakat Sentani sebagai peramu dan berburu (menangkap ikan) secara tradisional, sehingga untuk menyelam dan menangkap ikan di danau masih terus berlangsung. Dengan demikian permainan/permainan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi penghidupan masyarakt Sentani yang masih menggunakan cara menyelam untuk menagkap ikan. 1.9 Tanggapan Masyarakat Permainan ini hingga kini sudah tidak dimainkan lagi, akibat masuknya jenis permainan-permainan modern yang terus menggerus keberadaan permainan tradisional.

Kebanyakan masyarakat menganggapnya sebagai permainan yang sudah ketinggalan zaman. Namun demikian di saat-saat tertentu orang tua merasa bahwa permainan ini sangat dibutuhkan untuk membekali para pemuda menjadi perenang dan penyelam yang andal. Masyarakat berharap pemerintah atau intstansi terkait untuk menghidupkan lagi permainan ini melalui sanggar-sanggar kegiatan belajar atau melakukan perlombaan rukha hasai antarkampung.

II. Yuyu Phelau Makho 2.1 Nama Permaninan Nama permainan ini adalah yuyu phelau makho. Tidak ada informan yang tahu arti dari yuyu phelau makho.

Yuyu phelau makho berasal dari bahasa masyarakat Sentani kuno. Akan tetapi masyarakat Sentani mengartikannya sebagai “kejar ampas pinang”. Permainan ini tidak ada hubungannya dengan memakan pinang tetapi permainan mengejar lawan di dalam air yang sebelumnya diawali dengan lagu yuyu phelau makho.

Permainan ini dimainkan oleh hampir seluruh masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura. Permainan yuyu phelau makho berarti permainan menyelam dan dikejar oleh salah seorang yang pemain. 2.2 Peristiwa/Waktu Permainan yuyu phelau makho tidak terikat pada peristiwa atau waktu tertentu. Permainan ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau adat-istiadat masyarakat Sentani.

Biasanya permainan ini dimainkan pada siang hari atau sore hari di saat cuaca cerah. 2.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Kehidupan masyarakat Sentani yang bergantung pada danau menyebabkan tempat tinggal mereka tidak akan pernah jauh dari danau. Hampir semua aktivitas dilakukan di atas air. Selain itu, salah satu mata pencaharian masyarkat Sentani menangkap ikan.

Kemahiran menangkap ikan pada saat itu harus didukung dengan kemampuan berenang dan menyelam. Semakin lama menyelam semakin banyak pula ikan yang didapat dari dalam danau. Selain ikan, masyarakat Sentani juga mencukupi kebutuhan mereka dengan kerang (kheka) dan siput (fele).

Semua kebutuhan ini berada di dalam danau. Untuk mendapatkannya diperlukan keahlian berenang dan menyelam. Oleh karena itu masyarakat sentani melatih anak-anak mereka untuk bertahan hidup melalui permainan tradisional ini. 2.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Permainan yuyu phelau makho sudah ada di kalangan masyarakat Sentani sejak dulu.

Biasanya permainan ini hidup atau berkembang secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Permainan atau permainan yang sifat berupa kecakapan selalu diajarkan di rumah inisiasi (khomboyeu). Tujuan permainan ini adalah untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Sentani menjadi pemuda pandai berenang dan menyelam yang dapat mencari nafkah di kemudian hari dari danau. 2.5 Peserta/Pemain 2.5.1 Jumlah Pemain Jumlah pemain yuyu phelau makho tidak dibatasi.

Jumlah pemain bergantung pada banyaknya peserta siap pada saat itu. Kemudian pemain dibagi menjadi dua kelompok, misalnya kelompok satu terdiri atas lima orang begitu dengan kelompok sebelah. 2.5.2 Aturan Permainan Sebelum bermain anak-anak berkumpul. Mereka berunding kelompok siapa yang akan menjadi pengejar pertama.

Siapa pengejar pertama ini ditentukan dengan cara mengundi. Setelah itu kelompok pengejar akan menyanyikan lagu yuyu phelau makho. Anak-akan akan segera menceburkan diri ke danau.

Pemain yang dikejar harus menghindar dengan cara menyelam. Permainan ini dilakukan dengan menjaga tonggak yang berupa tiang rumah atau tiang dermaga. Tonggak tersebut dijadikan sebagai basecamp masing-masing kelompok.

Permainan yuyu phelau makho yang keluar dari basecamp dianggap mengejar terlebih dahulu. Apabila pemain dikejar dan tersentuh tangan oleh musuh, maka dianggap tertangkap dan tidak boleh bermain lagi. 2.5.3 Usia Permainan ini biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja. Penggolongan usia ini ada maksudnya, yakni sebagai sarana untuk melatih kemampuan anak dan remaja dalam berenang dan menyelam. 2.5.4 Jenis Kelamin Permainan yuyu phelau makho ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki atau anak perempuan. 2.5.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan yuyu phelau makho ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 2.6 Peralatan/Perlengkapan Tidak ada peralatan atau perlengkapan khusus yang digunakan dalam permainan yuyu phelau makho karena ini renang dan menyelam. Akan tetai tetap membutuhkan wahana sebagai berikut. a) Lagu yuyu phelau makho, pemain yang menjadi pengejar akan menyanyikan lagu ini sebagai sarana bagi pemain yang dikejar untuk mempersiapkan diri. b) Danau (Buyakhala), yaitu tempat dilaksanakannya permainan/permainan yuyu phelau makho. c) Tonggak/tiang (hu), tempat yang digunakan sebagai tempat berkumpol kelompok yang dijadikan basecamp. 2.7 Iringan Musik Permainan ini tidak menggunakan iringan musik, hanya digunakan lagu untuk memulai pengejaran terhadap pemain lawan.

Lagu yang dinyanyikan adalan yuyu phelau makho ando blesi blasa. Meskipun para pemain tidak mengetahui arti dari lagu ini, tetapi semua pemain tahu ketika lagu ini dinyanyikan makan permainan yuyu phelau makho akan segera dimulai. 2.8 Jalannya Permainan a) Persiapan Anak-anak berkumpul di dermaga untuk mempersiapkan permainan. Mereka mengundi siapa pemain pertama yang akan menjadi pengejar pertama.

Masing-masing kelompok diwakili oleh seorang pemain untuk diundi. Mereka membuat lingkaran seperti hompipah menggunakan tangan, siapa yang tangannya terbuka atau tertutup sendiri di antara teman-teman yang lain, dialah yang akan menjadi pengejar. b) Inti Permainan Kedua kelompok berada di dua tonggak/tiang rumah yang saling berhadap-hadapan. Setelah ditentukan kelompok mana yang menjadi pengejar pertama.

Kelompok terkejar harus berenang dan menyelam ke dalam danau. Apabila pemain lawan berhasil terkejar maka pemain itu kalah. Dia tidak diperkenankan mengikuti permainan lagi.

Kemudian permainan dilanjutkan dengan pengejar dari kelompok lawan. Jika tidak terkejar maka pemain masih bisa kembali ke basecamp. Ketika pengejar mendekat maka target harus menghindar dengan cara menyelam.

Kejar-kejaran dengan cara menyelam ini berlangsung cukup lama dan seru. Begitu seterusnya hingga semua pemain tertangkap atau pemain lawan dapat menyentuh basecamp. c) Penentuan Pemenang Kelompok yang menang adalah kelompok pemain yang menyentuh basecamp musuh atau berhasil menangkap seluruh pemain kelompok lawan. 2.9 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini sudah jarang dimainkan lagi, meskipun demikian sebagai masyarakat yang tinggal di peseisir danau aktivitas berenang dan menyelam masih terus dilakukan.

Peranan permainan ini untuk masa sekarang adalah sebagai sarana untuk meyiapkan atlet-atlet yang tangguh dalam bidang renang dan selam. namun demikian peranannya masih ada. Selain itu permainan/permainan ini juga memiliki peran yang signifikan dalam mendukung mata pencaharian masyarakat Sentani sebagai peramu dan pemburu (menangkap ikan) secara tradisional yang dilakukan dengan cara menyelam. 2.10 Tanggapan Masyarakat Masyarakat Sentani beranggapan bahwa permainan ini merupakan sarana untuk memupuk keahlian dalam berenang dan menyelam yang harus selalu dipertahankan.

Permainan ini masih mendapat tempat di hati masyarakat Sentani, karena permainan ini rasa persaingan yang sehat antarsesama tetap terpelihara. Permainan ini memberikan pula kecakapan hidup, yakni renang dan selam sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Sentani. III.

Rem Phaeikho-Phaeikho 3.1 Nama Permaninan Permainan ini dalam bahasa Sentani bernama rem phaeikho-phaeikho. Rem artinya dayung dan phaeikho-phaeikho artinya hitung-hitung. Rem phaeikho-phaeikho dapat diartikan sebagai perlombaan mendayung yang dilakukan di Danau Sentani.

Permainan ini dimainkan oleh hampir seluruh masyarakat di pesisir danau Sentani dari timur hingga ke barat. 3.2 Peristiwa/Waktu Permainan rem phaeikho-phaeikho biasanya dilakukan pada waktu siang hari atau sore hari menjelang matahari terbenam. Pada waktu siang atau sore ibu-ibu atau anak perempuan beranjak pulang ke rumah dari mencari ikan atau meramu sagu dari dusun sagu. Kesempatan ini digunakan untuk bermain kejar-kejaran perahu sesama ibu-ibu atau anak perempuan. 3.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura hidup dari meramu dan mencari ikan.

Kehidupan masyarakat Sentani ditopang oleh hutan sagu yang berada di pesisir danau dan ikan yang berada di danau. Karena rumah-rumah masyarakat Sentani dipangung di pinggir danau atau di atas danau maka sampan menjadi alat transportasi utama dan memegang peranan penting. Hampir sebagian besar waktu masyarakat dihabiskan untuk mendayung sampan.

Ketika pergi ke dusun untuk meramu sagu sampan selalu digunakan. Setelah meramu sagu, pulang ke rumah sambil membawa sagu juga memakai sampan. Hubungan antartetangga juga menggunakan sampan sebab jembatan atau jalan penghubung antara rumah sering tidak ada, apalagi antar kampung.

Masyarakat sentani memiliki perahu yang khusus digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Perahu laki-laki disebut ifa dan perahu perempuan disebut khai. Dalam permainan rem phaeikho-phaeikho perempuanlah yang sangat berperan.

Perempuan menggunakan perahu ini dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bisa dianggap sebagai perlengkapan kerja mereka yang paling penting. Mereka menggunakannya saat mereka menebar/mengangkat jala ikan, mencari kayu bakar, mengambil air bersih dari tengah danau, mengangkut tepung sagu, atau kerja di tempat lain. Perahu perempuan dimiliki oleh setiap keluarga di kampung, bahkan bisa lebih dari satu tergantung pada tuntutan kerja para wanita di keluarga tersebut.

Oleh karena itu, hubungan di atas air dan keterampilan medayung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hal tersebut merupakan faktor yang menghidupkan permainan atau permainan rem phaeikho-phaeikho. 3.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Awal mula sajarah permainan rem phaeikho-phaeikho tidak diketahui dengan pasti. Namun karena permainan rem phaeikho-phaeikho menggunakan sampan merupakan bagian dari kehidupan dan penghidupan masyarakat Sentani sehingga dapat dikatakan bahwa rem phaeikho-phaeikho ini telah setua kehidupan masyarakat itu sendiri.

Permainan ini sudah dikenal sejak lama, turun-temurun dari generasi ke generasi. Rem phaeikho-phaeikho juga dikenal secara merata dan amat populer di daerah Sentani. 3.5 Peserta/Pemain 3.5.1 Jumlah Pemain Jumlah peserta tidak selalu sama atau tidak sama banyaknya. Ada sampan yang hanya digunakan untuk satu orang disebut sampan laki-laki (ifa) ada pula sampan untuk beberapa orang yang disebut saampan perempuan (khai).

Misalnya ada dua khai (sampan perempuan) yang digunakan oleh dua perempuan dari dua keluarga. Ada dua orang dalam satu khai. Jadi keempat orang dalam khai ini dapat melakukan rem phaeikho-phaeikho menuju arah rumah mereka. 3.5.2 Aturan Permainan Setelah pulang bekerja dari dusun atau mencari ikan ibu-ibu sudah memenuhi kha¬i-nya dengan fi (sagu), ubi/petatas (ningkei), dan ikan (kha), lalu mereka sepakat untuk bermain rem phaeikho-phaeikho.

Dua khai berjejer searah menujuh arah rumah. Lalu mereka berlomba mendayung sampai rumah. Biasanya dalam khai berisi ibu dan anak perempuannya.

Ibu berada di posisi buritan sebagai pengendali sampan dan anak perempuan duduk ditengah membantu mendayung sampan. Mereka berlomba menuju rumah. Biasanya garis finish-nya berupa tiang rumah atau pulau yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.

Siapa yang sampai duluan di garis finish itulah pemenangnya. Permainan rem phaeikho-phaeikho ini sifatnya spontan sehingga tidak memiliki aturan yang jelas dan ketat. Biasanya ketika mereka bertemu di danau setelah pulang bekerja lalu mereka sepakat untuk berlomba. 3.5.3 Usia Permainan atau permainan rem phaeikho-phaeikho biasanya diikuti oleh ibu-ibu dan anak perempuan.

Penggolongan usia ini ada maksudnya, yakni sebagai sarana untuk melatih kemampuan anak dan remaja dalam mendayung dan mengendalikan sampan. 3.5.4 Jenis Kelamin Permainan/permainan rem phaeikho-phaeikho ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Jika pesertanya laki-laki maka sampan yang digunakan adalah ifa dan jika pesertanya perempuan maka sampan yang digunakan adalah khai. 3.5.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan rem phaeikho-phaeikho ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 3.6 Peralatan/Perlengkapan a) Sampan, Jika pesertanya laki-laki maka sampan yang digunakan adalah ifa dan jika pesertanya perempuan maka sampan yang digunakan adalah khai. Pemilihan kayu dari pulai dan matoa untuk pembuatan badan perahu karena berat jenis kayu yang cenderung ringan. Perahu perempuan di Danau Sentani biasanya berukuran 4—10 meter dan dibuat dari pohon matoa.

Perahu perempuan pada umumnya sedikit lebih besar dibanding perahu laki-laki. Perahu ini mampu menampung sepuluh orang penumpang. Pada waktu yang bersamaan memungkinkan kaum perempuan untuk membawa perlengkapan memancing, wadah air, dan benda-benda berat lainnya. b) Dayung (rem), kayu dari sowang dan merbau digunakan untuk membuat dayung perahu karena berat jenis yang lebih besar dan mudah ditenggelamkan untuk mendayung.

Masyarakat Sentani juga memiliki pengetahuan lokal dalam menentukan kriteria jenis pohon untuk membuat dayung, yang mana kayu untuk dayung bahannya harus kuat, lurus dan awet. Jenis yang biasa digunakan adalah yaa (Intsia sp). Menurut masyarakat, yaa yang isi kayunya merah dapat tenggelam, sedangkan yang isinya putih hanya terapung.

Namun masyarakat cenderung menggunakan kedua-duanya, karena tidak mempengaruhi dalam melakukan perjalanan. Dayung yang digunakan masyarakat ada dua model, yaitu model dayung laki-laki dan model dayung perempuan. Dayung laki-laki ukurannya panjang dan tidak memiliki ukiran, sedangkan dayung perempuan ukurannya pendek dan memiliki ukiran pada pipih dayung.

Pipih dayung perempuan agak lebar dari pipih dayung laki-laki, hal ini dimaksudkan agar memacu kecepatan jalannya perahu. c) Timba-timba air (kingkaei), digunakan untuk menimba air air masuk ke dalam sampan. Timba-timba air biasanya terbuat dari seludang kelapa. 3.7 Jalannya Permainan a) Persiapan Peserta lomba berada di atas sampan masing-masing. Perempuan dewasa berada di posisi buritan sebagai pengendali sampan.

Anak perempuan berada di tengah sampan membantu mendayung sampan. Bahan makan dari kebun seperti sagu, keladi, betatas, atau ikan berada di antara mereka berdua. Peserta lomba bisa lebih dari dua sampan bergantung pada banyaknya masyarakat yang pergi ke dusun saat itu.

Sampan-sampan peserta lomba berderet rapi siap untuk melakukan lomba. b) Inti Permainan Perlombaan mendayung sampan dimulai dengan hitungan bersama ibu-ibu. Setelah hitungan ketiga perlombaan dimulai. Dayung diayunkan ke dalam air dan perahu pun meluncur.

Mereka terus mendayung saling berkejar-kejaran. Suara riuh anak-anak perempuan di bagian tengah sampan memberi semangat mereka. c) Penentuan Pemenang Pemain atau sampan pemenang yaitu yang sampai terlebih dahulu pada garis finish yang telah disepakati bersama. Pihak yang tidak menang pun merasa senang karena telah ikut dalam lomba mendayung sampan.

Paling tidak rasa lelah karena telah bekerja keras selama hari itu terobati dengan senangnya hati. 3.8 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini sudah jarang dimainkan lagi, jika dibandingkan dengan masa lampau. Meskipun demikian sebagai masyarakat yang tinggal di pesisir danau aktivitas menggunakan sampan masih terus dilakukan. Selain itu, penggunaan perahu dayung saat ini mulai tergantikan dengan adanya perahu motor yang mulai marak di perairan danau sentani.

Permainan ini cukup menarik dan jika dikembangkan menjadi permainan dayung akan semakin memperkaya atlet-atlet dayung yang berasal dari Sentani. 3.9 Tanggapan Masyarakat Permainan ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat pendukungnya. rem phaeikho-phaeikho dapat dikembangkan mejadi permainan tradisional yang dikemas menjadi objek wisata yang menghasilkan ekonomi kreatif. Selain itu rem phaeikho-phaeikho memiliki manfaat yang amat besar.

Anak-anak muda baik laki-laki atau perempuan dilatih untuk mendayung perahu dengan baik, melatih kemahiran mendayung, daya tahan berdayung, dan kebolehan mengemudikan perahu. Semua itu akan bermanfaat untuk menyumbang atlet dayung daerah. IV.

Bhu Hikhoi-Hikhoi 4.1 Nama Permaninan Nama permainan ini adalah bhu hikhoi-hikhoi. Bhu berarti air dan hikhoi artinya berenang. Bhu hikhoi-hikhoi dapat diartikan sebagai lomba berang di danau Sentani.

Permainan ini dimainkan oleh masyarakat Sentani di Kampung Asei/Ohee, Kabupaten Jayapura. 4.2 Peristiwa/Waktu Permainan bhu hikhoi-hikhoi dilakukan pada sore hari menjelang petang. Permainan bhu hikhoi-hikhoi dilakukan ketika anak-anak muda Kampung Asei/Ohee pulang dari bermain bola di suatu tempat bernama Kiso. 4.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Tempat tinggal masyarakat Sentani Timur saat itu berpusat di Pulau Ohee. Semua aktivitas yang dilakukan di luar pulau berarti harus menyeberang, baik menggunakan perahu atau dengan berenang.

Kemampuan berenang harus diajarkan sejak dini kepada anak-anak. Dahulu anak-anak yang sudah pandai berjalan dikenalkan dengan air danau. Dibuatkanlah sepotong kayu yang dapat terapung di danau.

Anak-anak diajari untuk meraih potongan kayu tersebut. Seiring bertambahnya usia anak, potongan kayu itu diletakkan agak jauh dari jangkauan anak-anak yang diajari berenang. Lama-kelamaan anak akan belajar berenang dengan sendirinya untuk menggapai potongan kayu tersebut.

Karena sering berlatih, anak-anak Sentani semakin mahir dalam menyelam. 4.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Dahulu masyarakat Sentani di Pulau Ohee gemar berpermainan. Permainan kegemaran mereka adalah sepak bola. Mereka bermain bola di suatu tempat yang datar di sebelah utara Pulau Asei.

Tempat itu bernama Kiso. Anak-anak muda hampir setiap hari bermain bola. Untuk menguji kebolehan dalam bermain bola, mereka melakukan uji tanding dengan kampung-kampung di sekitar Kampung Ohee.

Dalam uji tanding tersebut anak-anak kampung Asei selalu memenangkan pertandingan. Karena mereka tinggal di pulau untuk pulang biasanya mereka berenang menyeberang ke Pulau Asei. 4.5 Peserta/Pemain 4.5.1 Jumlah Pemain Jumlah perenang tidak ditentukan banyaknya, bergantung pada jumlah orang yang ikut bermain sepak bola di Kiso saat itu. 4.5.2 Aturan Permainan Peserta bhu hikhoi-hikhoi diharuskan berenang dari pesisir Kiso menuju Pulau Ohee.

Ketika peserta renang berada di pertengahan antara pesisir Kiso dan Pulau Ohee mereka harus menyelam untuk mengambil lumpur (re) yang berada di dasar danau (wabo). Siapa yang mampu mengambil lumpur dan saling memperlihatkan kepada sesama perenang, lalu mereka melanjutkan berenang menuju Pulau Ohee. 4.5.3 Usia Permainan ini biasanya diikuti para remaja Sentani. Penggolongan usia ini ada maksudnya, yakni sebagai sarana untuk melatih kemampuan remaja dalam berenang dan menyelam. 4.5.4 Jenis Kelamin Permainan bhu hikhoi-hikhoi ini hanya dimainkan oleh anak laki-laki karena memerlukan tenaga yang lebih banyak. 4.5.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan bhu hikhoi-hikhoi ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 4.6 Peralatan/Perlengkapan Tidak ada peralatan atau perlengkapan khusus yang digunakan dalam permainan bu hikhoi-hikhoi karena ini permainan renang dan menyelam. 4.7 Jalannya Permainan a) Persiapan Peserta lomba renang bhu hikhoi-hikhoi berkumpul di pesisir Kiso. Mereka bersiap untuk berenang menyeberangi selat yang menghubungkan antara Kiso dan Pulau Asei.

Peserta sudah berada di dalam air dengan berbaris berbanjar ke samping layaknya perenang di kolam renang. b) Inti Permainan Peserta bhu hikhoi-hikhoi sudah siap di pinggir danau. Setelah hitungan ketiga mereka memulai berenang ke arah tengah danau. Tidak ada gaya tertentu yang digunakan dalam bhu hikhoi-hikhoi ini.

Mereka terus berenang hingga mencapai pertengahan danau antara Kiso dan Pulau Asei. Setelah itu mereka menyelam ke dasar danau (wabo) untuk mengambil segenggam lumpur untuk ditunjukkan kepada sesama peserta renang. Tidak semua peserta dapat menyelam ke wabo, mereka sudah kehabisan napas ketika mereka belum mancapai dasar danau.

Tidak mau mengambil risiko peserta yang tidak dapat mengambil lumpur segera berenang menuju permukaan danau. Setelah proses pengambilan re, peserta melanjutkan berenang menuju Pulau Asei. c) Penentuan Pemenang Perenang yang berhasil mengambil lumpur dan berhasil mencapai Pulau Asei/Ohee lebih dahulu dinyatakan sebagai pemenang. 4.8 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional bhu hikhoi-hikhoi ini sudah jarang dimainkan lagi, meskipun demikian sebagai masyarakat yang tinggal di peseisir danau aktivitas berenang dan menyelam masih terus dilakukan.

Peranan permainan ini untuk masa sekarang adalah sebagai sarana untuk meyiapkan atlet-atlet yang tangguh dalam bidang renang dan selam. namun demikian peranannya masih ada. Selain itu permainan/permainan ini juga memiliki peran yang signifikan dalam mendukung mata pencaharian masyarakat Sentani sebagai peramu dan pemburu (menangkap ikan) secara tradisional yang dilakukan dengan cara menyelam. 4.9 Tanggapan Masyarakat Masyarakat Sentani beranggapan bahwa permainan bhu hikhoi-hikhoi ini merupakan sarana untuk memupuk keahlian dalam berenang dan menyelam yang harus selalu dipertahankan.

Permainan ini masih mendapat tempat di hati masyarakat Sentani, karena permainan ini rasa persaingan yang sehat antarsesama tetap terpelihara. Permainan ini memberikan pula kecakapan hidup, yakni renang dan selam sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Sentani. V. Oro Kino-Kino 5.1 Nama Permaninan Permainan ini bernama oro kino-kino.

Oro kino-kino adalah permainan tradisional anak-anak yang dimainkan di atas bidang berupa gambar enam kotak. Permainan ini terdiri dari dua kata dalam bahasa Sentani. Oro berarti kaki dan kinoi artinya lintah.

Oro kino-kino dapat diartikan sebagai lintah yang melompat-lompat. Disebut oro kino-kino karena cara memainkannya menggunakan satu kaki dengan melompat-lompat seperti lintah. Permainan ini ternyata permainan mirip gici-gici atau engklek dari beberapa daerah di Indonesia.

Yang membedakannya adalah gaco tidak dilempar ke kotak-kotak permaianan namun digeser menggunakan ujung jari kaki yang digunakan untuk menapak. Gambar sebagai bidang permainan tersebut dibuat di lantai, jalanan, tanah lapang, dan tempat datar lainnya. Biasanya, gambar di buat dengan kapur tulis, arang, dan kayu jika dibuat di atas tanah.

Permainan ini dimainkan oleh hampir seluruh masyarakat Sentani yang berada di Kabupaten Jayapura. 5.2 Peristiwa/Waktu Permainan oro kino-kino dilakukan pada sore hari atau waktu-waktu seganggang sepulang sekolah atau pada hari libur. 5.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Dengan bermain anak memiliki kesempatan bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Selain itu bermain membantu anak mengendalikan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.

Dengan menggunakan permainan tradisional oro kino-kino dapat melatih kemampuan anak membaca gerak tubuh, menggerakkan tubuh, melatih ketangkasan dan kelincahan anak dalam permainan, meningkatkan kemampuan komunikasi dan kemampuan menyusun strategi yang baik, melepaskan emosi anak dan melatih anak belajar berkelompok. 5.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Tidak diketahui pasti sejarah permainan oro kino-kino. Sebab, tidak ada bukti otentik tentangnya.

Namun, ada dua pendapat tentang sejarah permainan engklek yang cukup dikenal hingga kini. Teori pertama mengatakan bahwa permainan oro kino-kino atau engklek dalam Bahasa Jawa diperkenalkan pertama kali oleh Belanda saat menjajah Indonesia. Dalam bahasa Belanda, permainan ini dikenal dengan nama Zondaag Maandag.

Di Betawi, permainan oro kino-kino dikenal dengan nama dampu bulan, di Tanah Sunda disebut sondah, di Riau disebut Setatak, di NTT dikenal dengan siki doka, dan di Batak Toba dikenal dengan nama marsitekka. Permainan ini mulanya sering dimainkan oleh anak-anak dari keluarga Belanda. Kemudian setelah merdeka, permainan ini masih bertahan dan dimainkan di Indonesia.

Bahkan kini permainan engklek dikenal sampai seluruh pelosok negeri, bahkan sampai Papua. Pendapat lain mengatakan bahwa permainan ini serupa dengan permainan dari Britania Raya yang disebut dengan hopscotch. Permainan hopscotch usianya sangat tua, sudah ada sejak zaman Kekaisaran Romawi Kuno. 5.5 Peserta/Pemain 5.5.1 Jumlah Pemain Oro kino-kino adalah permainan yang bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, ada juga yang memainkannya sampai 5 orang.

Permainan tradisional sondah semakin asik jika dimainkan semakin banyak orang. 5.5.2 Aturan Permainan Pemain harus menggeser gaco menggunakan kaki yang dipakai untuk bertumpu. Pemain yang menginjak garis atau menurunkan kaki yang diangkat harus mengentikan permainan dan digantikan rekan sepermainan jika bermain secara berkelompok. Jika dilakukan perorangan maka akan digantikan oleh pemain lawan. 5.5.3 Usia Permainan atau permainan ini biasanya diikuti anak-anak dan remaja Sentani.

Penggolongan usia ini ada maksudnya, yakni sebagai sarana untuk melatih kemampuan motorik anak-anak dan remaja. 5.5.4 Jenis Kelamin Permainan/permainan oro kino-kino ini biasanya dimainkan oleh anak perempuan, ada kalanyaa anak laki-laki juga turut bermain ini walau kadang banyak tidak seriusnya waktu memainkannya. 5.5.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan oro kino-kino ini. Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 5.6 Peralatan/Perlengkapan Ada dua peralatan atau perlengkapan yang digunakan dalam permainan oro kino-kino, yaitu; a) gaco, yaitu alat yang digunakan untuk digeser dalam bidang datar menggunakan kaki.

Gaco dalam permainan oro kino-kino biasanya berasal dari batu (rukha) kecil yang bentuknya pipih; b) gambar bidang datar yang digunakan untuk memainkan permainan. Ada enam bidang berbentuk kotak. 5.7 Jalannya Permainan a) Persiapan Setiap pemain oro kino-kino harus sudah memiliki gaco masing-masing. Lalu lakukan hompimpah untuk memilih urutan pemain, siapa yang lebih dahulu melakukan permainan hingga siapa yang terakhir dengan suit.

Suit adalah mengadu jari-jari yakni kelingking, jari telunjuk dan jempol. b) Inti Permainan 1) Pemain pertama melemparkan gaco ke kotak pertama, gaco tidak boleh mengenai garis. Jika gaco mengenai garis, pemain harus berhenti dan digantikan dengan pemain lain. Setelah itu pemain melompat ke kotak pertama dengan menggunakan satu kaki.

Peraturannya masih sama kaki tidak boleh menyentuh garis. 2) Setelah itu pemain mendorong gaco menggunakan ujung jari kaki yang digunakan untuk bertumpu. Gaco didorong ke kotak ke dua. 3) Begitu seterusnya sampai semua kotak dilewati dengan mendorong gaco menggunakan ujung jari kaki. Pergiliran dilakukan jika pemain pendorong gaco melewati sasaran, mengenai garis, menginjak garis, atau menapak dua kaki di satu kotak. 4) Kemudian jika semua kotak sudah dilewati oleh pemain, maka pemain tersebut bisa melemparkan gaco dengan membelakangi enam kotak permainan.

Jika gaco jatuh pada kotak yang dikehendaki, maka kotak itu akan menjadi rumahnya. 5) Pemain yang mendapatkan kotak boleh berhenti dikotak tersebut dengan dua kaki. Begitu seterusnya sampai kotak-kotak menjadi milik para pemain. Jika semua telah dimiliki oleh pemain, maka permainan dinyatakan telah selesai. c) Penentuan Pemenang Pemenang adalah pemain yang paling banyak memiliki rumah dari kotak-kotak pada kotak sesuai keinginan si pemenang. 5.8 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional oro kino-kino ini sudah jarang dimainkan lagi, meskipun demikian sebagai masyarakat masih percaya bahwa permainan ini memiliki peranan yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak.

Permainan ini bukan hanya dilakukan sebagai hiburan saja, namun juga memiliki banyak manfaat bagi para pemainnya. Secara umum, permainan ini mengkombinasikan kemampuan fisik dengan pola pikir yang cepat tanggap untuk dapat menjalankan aksi secara tepat. Permainan oro kino-kino sangat baik dilakukan oleh anak-anak karena mampu membantu mengasah kemampuan fisik dan mentalnya. 5.9 Tanggapan Masyarakat Kita harus melestarikan permainan engklek tenyata permainan ini memiliki dampak yang cukup bagus bagi anak-anak untuk melatih sistem motorik, psikologis, keterampilan sosial, kreativitas dan perkembangan kognitif anak.

VI. Haa Wanggo 6.1 Nama Permaninan Permainan lompat tali adalah permainan yang dimainkan menggunakan tali karet sebagai alat permainannya. Jenis permainan ini termasuk ke dalam permainan tradisional yang memanfaatkan kekuatan dan kerja sama para pemainnya.

Dalam bahasa Sentani permainan ini diberi nama haa wanggo. Haa berarti tali dan wanggo artinya main. Haa wanggo dapat diartikan sebagai main tali atau lompat tali. 6.2 Peristiwa/Waktu Permainan haa wanggo dilakukan pada sore hari atau waktu-waktu senggang sepulang sekolah atau pada hari libur. 6.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Permainan tradisional merupakan salah satu aktivitas permainan yang memberikan kesenangan pada seseorang yang melakukan aktivitas permainan itu sendiri, terutama yang memiliki jasmani dan rohani yang sehat.

Permainan tradisional merupakan permainan yang mengandung suatu gerak atau aktivitas jasmani, sehingga anak akan melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa merasa lelah sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan jasmani anak. Oleh karena itu, permainan tradisional yang ada di daerah-daerah di indonesia erat sekali hubungannya dengan adat istiadat, tata krama dari pandangan hidup manusia. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika permainan tradisional disebarluaskan sehingga dapat dikenal dan dimainkan oleh anak-anak indonesia dan digunakan sebagai alat pendidikan.

Pendidikan jasmani dan kesehatan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan kesehatan serta kebiasaan hidup sehari-hari mempunyai peranan penting dalam pembinaan dan pengembangan individu maupun kelompok dalam perkembangan dan pertumbuhan jasmani, mental yang serasi, selaras, dan seimbang. 6.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Lompat tali termasuk ke dalam permainan tradisional yang terbuat dari karet gelang yang digabungkan dan disusun panjang.

Permainan ini memang identik dengan kaum perempuan, namun tak jarang ada juga anak laki-laki yang ingin ikut bermain. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dan dari mana permainan ini berasal. Namun, permainan lompat tali sudah muncul sejak Belanda menjajah Indonesia, awalnya permainan ini dimainkan oleh anak-anak Belanda yang ada di Indonesia.

Tetapi, ada pula yang mengatakan bahwa asal permainan lompat tali dari benua Eropa yang kemudian menyebar ke benua-benua lainnya termasuk di benua Asia Tenggara yakni tepatnya di Indonesia. Di Indonesia sendiri permainan ini banyak dijumpai di berbagai daerah namun dengan nama yang berbeda-beda. Misalnya seperti, nama Yeye, Tali Merdeka, Lompatan, Lompat Tali, Haa Wanggo, dan lain-lain.

Inti dari permainan lompat tali ini adalah melompat tali karet yang tersimpul. Penamaan pada permainan ini pun ada kaitannya dengan tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan oleh pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan terakhir. Pada lompatan terakhir, biasanya tali karet akan direnggangkan oleh pemegangnya setinggi kepalan tangan yang diacungkan ke udara oleh pemegang karet. 6.5 Peserta/Pemain 6.5.1 Jumlah Pemain Pemain haa wanggo ini berjumlah 3—10 orang.

Pemain dibagi dalam dua kelompok, yaitu pemegang tali dan pelompat tali. 6.5.2 Aturan Permainan Aturan dalam permainan ini sangat sederhana. Para pemain hanya melompati tali yang sudah dipegang oleh pemain yang bertugas sebagai pemegang. Jika pemain yang bertugas sebagai pelompat dapat melompati tali dengan ketinggian tertentu, maka akan tetap menjadi pelompat.

Tetapi jika pemain yang bertugas sebagai pelompat gagal melompati tali tersebut, maka harus menggantikan posisi pemegang untuk memegang karet. Berikut beberapa aturan dalam permainan haa wanggo: • Tali harus berada pada batas lutut pemain yang bertugas sebagai pemegang tali; • Saat tali berada setinggi pinggang, pemain yang bertugas sebagai pelompat tidak boleh mengenai tali pada waktu melompati tali tersebut; • Pemain yang bertugas sebagai pelompat yang tidak bisa melompati tali dianggap kalah dan harus menggantikan posisi pemegang tali; • Saat posisi tali berada di dada pemegang tali, peloncat boleh mengenai karet pada waktu melompati asalkan tidak terlilit oleh tali tersebut, karena posisi tali saat di dada dianggap cukup tinggi; • Setelah posisi tali setinggi dada, kemudian posisi tali berpindah menjadi sebatas telinga; • Posisi tali sebatas kepala; • Posisi tali sejengkal dari kepala, setelah itu posisi tali menjadi dua jengkal dari kepala, dan • Posisi tali seacungan pemegang tali. 6.5.3 Usia/Jenis Kelamin Pada umumnya permainan haa wanggo dilakukan oleh anak perempuan yang masih berusia antara 7—15 tahun.

Anak perempuan yang telah berumur lebih dari 15 tahun biasanya akan segan untuk ikut bermain, karena takut auratnya akan terlihat sewaktu melompati tali. Kalau pun ada yang ikut bermain, biasanya hanya sebagai penggembira saja dan hanya melompat saat ketinggian tali masih sebatas lutut atau pinggang. Sedangkan kaum laki-laki hanya kadang kala saja ikut serta dalam permainan. 6.5.4 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan haa wanggo ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 6.6 Peralatan/Perlengkapan Perlengkapan bermain haa wanggo adalah seutas tali yang terbuat dari tanaman rambat yang banyak tumbuh di sekitar Kampung Asei Sentani. Tali untuk permainan ini disebut dengan hanggesa. Dinamakan hanggesa karena mirip dengan batang tanaman ubi jalar (hanggesa) yang menjulur panjang. 6.7 Jalannya Permainan a) Persiapan Para pemain melakukan hompimpah untuk menentukan dua orang pemain yang bertugas untuk memegang tali, yang disebut dengan pemegang tali. b) Inti Permainan 1) Kedua orang pemegang tali harus menentukan siapa yang akan mendapat giliran bermain, jika ada pelompat yang gagal melewati lompatan tali. 2) Setiap pemain yang merupakan pelompat tali harus melompati tahapan ketinggian tali karet. 3) Ketinggian tali karet mulai dari setinggi mata kaki, naik ke lutut, paha, hingga pinggang.

Pada tahapan ini pelompat tidak boleh menyentuh tali karet ketika melompatinya. 4) Tahapan ketinggian tali karet selanjutnya adalah setinggi dada, dagu, telinga, ubun-ubun, hingga tangan yang diangkat ke atas dengan kaki berjinjit. 5) Pada tahap ketinggian tali tersebut, para pelompat tali diperbolehkan untuk menyentuh bagian tali ketika melompat, dengan syarat dapat melewatinya tanpa terjerat talinya. 6) Pelompat yang tidak berhasil melompati tali karet harus menghentikan permainannya dan bergantian posisi dengan pemegang tali. c) Penentuan Pemenang Tidak ada penentuan pemanang dalam permainan haa wanggo.

Jika semua pelompat berhasil melewati ketinggian tali hingga tahap terakhir, maka permainan akan dimulai dari awal lagi. Permainan akan berlangsung seperti itu sampai para pemain memutuskan untuk mengakhiri permainannya. 6.8 Peranannya Masa Kini Dilihat dari aspek perkembangan anak yang memainkan permainan haa wanggo dapat melatih syaraf motorik. Haa wanggo merupakan suatu kegiatan yang baik bagi tubuh secara fisik anak jadi lebih terampil, karena bisa belajar cara dan teknik melompat yang dalam permainan ini memang memerlukan keterampilan tersendiri.

Lama kelamaan, bila sering dilakukan, anak dapat tumbuh menjadi cekatan, tangkas dan dinamis. Otot-ototnya pun padat dan berisi, kuat serta terlatih. Haa wanggo juga dapat membantu mengurangi kejadian obesitas pada anak. 6.9 Tanggapan Masyarakat Begitu banyaknya manfaat yang diperoleh dalam permainan haa wanggo.

Oleh karena itu, permainan ini harus direvitalisasikan agar tetap lestari. VII. Mendelauw 7.1 Nama Permainan Mendelauw yang asal katanya dari kata Me yang artinya tangan dan kata sebenarnya adalah relauw yang artinya olahan/namun untuk memperlancar penyebutannya maka di ganti dan di sambung dengan kata delauw, sehingga kalau diartikan merupakan permainan yang membentuk formasi tertentu dari bahan tali/ serat pohon dengan menggunakan tangan.

Permainan ini merupakan permainan yang menggunakan pintalan/anyaman seuntas tali. 7.2 Peristiwa/Waktu Permainan ini dimainkan untuk mengisi waktu senggang merupakan juga suatu ungkapan perasaan gembira dan harapan-harapan akan hasil kebunnya yang penuh dengan fam/safu/ubi nantinya akan menghasilkan hasil yang terbaik. 7.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Permainan mendelauw ini terbuat dari anyaman tali yang melukiskan atau menggambarkan simbol-simbol tentang bendabenda maupun kehidupan ekonomi dari masyarakat pendukungnya, yang mendiami danau Sentani.

Dari simbol-simbol tersebut kita dapat melihat jelas biasanya simbol-simbol tersebut dimainkan disertai dengan ungkapan syair-syair yang mengungkapkan latar belakang kehidupan masyarakat suku Sentani, seperti misalnya simbol-simbol makanan pokok pada masyarakat suku Sentani di sekitar Danau Sentani (bhuyaka). Dalam permainan ini tidak ada dikenal dengan menang atau kalah, karena permainan ini bukan termasuk ke dalam jenis kategori permainan lomba tetapi hanya untuk mengisi waktu saja selama musim panen. 7.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Permainan ini sudah dikenal sejak lama, dimainkan turun temurun dari para orang tua mereka sejak zaman nenek moyang mereka sampai ke anak cucu mereka dan biasanya permainan ini hanya dimainkan setahun sekali saja yaitu hanya pada saat musim panen hasil kebun mereka khususnya tanaman ubi atau syapu/syafu dalam bahasa umum mereka dan dalam bahasa lokal mereka sendiri di sebut fam.

Pada zaman dulu permainan mendelauw hanya dimainkan oleh anak-anak perempuan saja, namun lama kelamaan dimainkan juga oleh anak-anak laki-laki bahkan sampai para orang tua. Tempat bermain permainan mindelauw ini biasanya dimainkan di serambi rumah, di bawah pohon atau di kebun mereka sambil menunggu orang tua mereka pulang dari mengambil fam/syafu dari kebun mereka. 7.5 Peserta/Pemain 7.5.1 Jumlah Pemain Permainan mendelauw bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, ada juga yang memainkannya sampai 4 orang.

Permainan tradisional mendelauw semakin asik jika dimainkan semakin banyak orang. 7.5.2 Aturan Permainan Pola permainan permainan ini adalah membetuk pola-pola yang dimainkan menggunakan seutas tali yang terbuat dari dari pintalan serat kulit kayu. Bentuk-bentuk formasi dalam suatu permainan mendelauw menurut aturan: a) Bentuk fam (ubi) b) Bentuk fii (sagu) c) Bentuk khahee fele-fele yaitu ikan gabus merah kecil d) Bentuk khleuw-khleuw sejenis ikan gete-gete e) Bentuk kahiloo (belut) 7.5.3 Usia Permainan mendelauw ini biasanya dimainkan mulai dari anak-anak yang berusia sekitar 6—10 tahun bahkan dimainkan juga oleh orang-orang dewasa dan semua lapisan serta tingkatan masyarakat di sekitar danau Sentani khususnya Sentani Timur di Kampung Asei Besar. 7.5.4 Jenis Kelamin Permainan mendelauw ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa. 7.5.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan Permainan mendelauw ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 7.6 Peralatan/Perlengkapan Perlengkapan yang digunakan dalam permainan mendelauw, yaitu tali kleu haa (serat tali putih) atau habolo haa (tali melinjo) yang terbuat dari serat kulit kayu melinjo. 7.7 Jalannya Permainan Permainan mendelauw ini tidak mempunyai aturan-aturan bermain yang ketat, sehingga bukan semacam lomba, sehingga tidak mengenal kalah dan menang, mendelauw fungsinya hanya sebagai hiburan dan kegembiraan untuk menyambut panen syafu/fam dan hanya terdiri dari sejumlah gambar/formasi ataupun simbol-simbol yang dianyam-anyam.

Simbol pertama ataupun hasil anyaman pertama akan diambil over oleh pihak kedua, kemudian yang pihak kedua tersebut akan menganyam lagi sebuah simbol lain kemudian diambil lagi oleh pihak pertama dan seterusnya sampai semua formasi-formasi yang dimainkan terbentuk. Keduanya saling menganyam simbol dan saling menukarkannya, sehingga terbentuk semacam siklus atau putaran dari simbol-simbol yang di anyam. Dimulai dari simbol pertama yaitu fam (ubi), fiii (sagu), khahee felefele (gabus merah kecil), khleuw-khleuw (gete-gete), kahiloo (belut), dan kemudian kembali lagi ke formasi fam (ubi).

Bentuk fam (ubi) Bentuk fii (sagu) Bentuk khahee fele-fele (gabus merah keci) Bentuk khleu khleu (gete-gete) Bentuk kahilo (belut) 7.8 Peranannya Masa Kini Permainan mendelauw memiliki fungsi edukasi yang sangat tinggi, ada nilai filosofi bagaimana seseorang perilakunya bisa ditangkap/direkonstruksi ke dalam sebuah ceritera mendelauw, bisa juga menceriterakan mengenai sifat buruk yang harus dihindari. Seseorang yang akan digambarkan karakterrnya di dalam satu permainan mendelauw itu sangat sulit, seorang tokoh tertentu itu diturunkan dalam pentahapan dalam sebuah penggambaran yang rinci, bukanlah sebuah hal yang sederhana.

Karena itu mendelauw ini bisa juga menggambarkan tingkat peradaban tertentu pada sebuah masyarakat, banyak permainan rakyat yang bisa dilihat, tetapi permainan rakyat yang menjelaskan mengenai filosofi berpikir, tingkatan berpikir dan bagaimana mereka menurunkannya ke dalam sebuah langkah-langkah perwujudannya merekonstruksi sebuah pemikiran ke dalam bentuk-bentuk permainan, itu adalah salah satu contoh sebuah masyarakat yang memiliki satu tingkat peradaban yang relatif berkembang. 7.9 Tanggapan Masyarakat Mendelauw yang merupakan permainan tradisional yang dikenal oleh masyarakat bhuyaka atau masyarakat Sentani, permainan rakyat yang sesungguhnya adalah personifikasi dari peristiwa tertentu, orang tertentu, kejadian tertentu, jenis hewan tertentu yang digambarkan dan diuraikan secara terukur.

Permainan rakyat ini sangatlah penting untuk dapat dihidupkan kembali, untuk membantu masyarakat juga bahwa misalnya dimasukkan ke sekolah-sekolah melalui kurikulum mata pelajran muatan lokal. Sesungguhnya inilah kreasi lokal yang bisa melatih cara berpikir yang sangat hebat. Membayangkan tokoh lalu mempersonifikasi dia lalu menyusunnya dalam tahap-tahap, yang entah harus dimulai dari mana dan harus berpikir bentuknya, sehingga itu merupakan hal yang rumit.

Mendelauw juga sangat penting dalam membentuk karakter orang, karena permainan ini itu orang melakukannya pada waktu luang. Setelah terbentuknya struktur mereka juga melatih orang untuk bisa berpikir lebih cepat, lebih kencang dan bisa membayangkan/merekosntruksi seseorang dalam satu pemaknaan tertentu dan diturunkan ke dalam langkah-langkah yang diikuti oleh permainan rakyat ini, sehingga tinggi sekali filosofi dari permainan ini.

VIII. O Wanggo 8.1 Nama Permaninan O wanggo adalah salah satu permainan tradisional dari Sentani, Kabupaten Jayapura yang dimainkan oleh anak-anak dengan menggunakan tongkat kayu. O wanggo berasal dari dua kata, yakni o berarti kayu dan wanggo memiliki arti bermain.

Dalam permainan ini terdapat dua buah tongkat. Tongkat yang pertama sebagai tongkat pemukul dan tongkat kedua sebagai tongkat yang dipukul. 8.2 Peristiwa/Waktu Permainan o wanggo dilakukan pada sore hari atau waktu-waktu senggang sepulang sekolah atau pada hari libur. 8.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Permainan tradisional merupakan permainan yang mengandung suatu gerak atau aktivitas jasmani, sehingga anak akan melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa merasa lelah sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan jasmani anak.

Oleh karena itu, permainan tradisional yang ada di daerah-daerah di Indonesia erat sekali hubungannya dengan adat istiadat, tata krama dari pandangan hidup manusia. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika permainan tradisional disebarluaskan sehingga dapat dikenal dan dimainkan oleh anak-anak indonesia dan digunakan sebagai alat pendidikan. 8.4 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Permainan di luar ruangan ini pernah sangat terkenal pada zamannya.

Boleh disebut setiap permainan tradisional selalu menjadi tren pada saat-saat tertentu. Tidak bisa pada satu permainan dapat bertahan lama. Daya tahan yang tak cukup lama ini tentu dipengaruhi oleh sifat manusia yang mudah bosan dan selalu mencari hal baru.

Namun ketika telah tidak ada lagi pilihan untuk permainan yang lain biasanya akan kembali lagi ke permainan semula. Begitulah permainan tradisional ikut berputar dan dinamis sesuai kondisi zaman. Mengenai asal usul permainan ini tidaklah jelas, namun yang jelas permainan ini banyak ditemukan di daerah Jawa Timur dengan sebutan patil lele, Jawa Tengah dan Yogyakarta dikenal sebagai benthink, di Bangka Belitung dikenal dengan tak tek, dan di Sentani, Jayapura disebut o wanggo. 8.5 Peserta/Pemain 8.5.1 Jumlah Pemain Pemain o wanggo ini berjumlah 2—10 orang.

Pemain dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang memainkan dan kelompok yang menjaga. 8.5.2 Aturan Permainan Permainan o wanggo tidak memerlukan aturan khusus, permainan ini ada terdapat pemukul o dan penangkap o. Nantinya dalam permainan, kayu atau ranting disebut dengan o fnong (kayu pendek) dan o khokho (kayu panjang). Aturan permainannya adalah pemukul harus memukul o fnong.

Jika batang o fnong terlempar dan berhasil ditangkap oleh penangkap maka mereka harus bertukar tempat. Pemukul harus dapat memukul o fnong hingga terlempar, sedangkan penangkap harus mampu menangkap go fnong yang dipukul. Jika, pemukul berhasil memukul o fnong hingga terlempar, dia akan memperoleh nilai.

Namun, nilai itu bisa gugur kalau penangkap berhasil menangkap o fnong yang terlempar. 8.5.3 Usia/Jenis Kelamin Pada umumnya permainan o wanggo dapat dimainkan oleh kelompok usia mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Permainan ini dapat dimainkan oleh dimainkan baik laki-laki maupun perempuan. 8.5.4 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan o wanggo ini. Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 8.6 Peralatan/Perlengkapan Perlangkapan yang diperlukan dalam permainan o wanggo adalah o fnong (kayu pendek), o khokho (kayu panjang), dan lubang (bulu) kecil di tanah sebagai tempat memainkan o wanggo. 8.7 Jalannya Permainan a) Persiapan Pada awal permainan, perwakilan kelompokberunding untuk menentukan siapa yang mendapat giliran bermain terlebih dahulu.

Kelompok permainan dibagi menjadi dua kelompok/tim. Tim pertama bertindak sebagai pemukul kayu dan tim kedua berperan sebagai kubu penjaga atau penangkap o fnong. Masing-masing kelompok terdiri atas beberapa pemain.

Selanjutnya, tim pemukul kayu akan menentukan urutan pemain yang akan melakukan permainan. b) Inti Permainan • Pemain pertama yang mendapat giliran akan meletakkan o fnong di atas lubang, lantas dicungkil dari bawah menggunakan o khokho. Cungkilan dilakukan ke atas atau ke arah tim yang bertindak sebagai kubu penjaga dan telah bersiap-siap untuk menangkap o fnong yang dilemparkan. • Jika o fnong berhasil ditangkap, maka tim penangkap menang.

Tim tersebut dapat berganti peran dengan tim lawan yang berperan sebagai pemukul kayu. Adapun cara menangkap o fnong dapat memberikan poin tersendiri bagi tim penangkap, bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. Misalkan jika dapat menangkap dengan satu tangan maka dapat memperoleh 50 poin, menangkap dengan kedua tangan dapat memperoleh 20 poin, dan lain-lain. • Namun, apabila tidak ada seorang pun anggota tim penjaga yang mampu menangkap o fnong yang dilempar oleh tim pelempar, maka tim penjaga harus melemparkan kembali o fnong ke arah kayu o khokho yang telah diletakkan melintang diatas lubang oleh tim pelempar.

Jarak melempar berdasarkan tempat o fnong jatuh. • Jika lemparan dari tim penjaga berhasil mengenai o khokho, maka tim pelempar dinyatakan kalah dan harus bertukar posisi dengan tim penjaga untuk bertindak sebagai tim penjaga. • Di sisi lain, apabila lemparan tim penjaga tidak berhasil mengenai o khokho maka tim pelempar yang memperoleh poin. Poin dihitung berdasarkan jarak o fnong terjatuh dan diukur berdasarkan panjang o khokho.

Setiap jarak o khokho yang ditempuh, dapat digantikan dengan satu poin (atau sesuai kesepakatan) bagi tim pelempar. • Permainan dilakukan terus hingga batas waktu yang disepakati. Kelompok yang dapat mengumpulkan poin tertinggi akan menjadi pemenangnya. 8.8 Peranannya Masa Kini Secara keseluruhan permainan o wanggo dari waktu ke waktu tidak mengalami perkembangan. Permainan ini diturunkan atau diwariskan kebanyakan dari kakak kelas kepada adik kelasnya saat bermain di sekolah dasar atau di sekolah menengah pertama dulu.

Permainan o wanggo sampai saat ini masih memiliki peranan yang penting bagi masyarakat. Ia juga memberikan manfaat kepada anak-anak yang memainkannya. Anak-anak dapat belajar ketangkasan dengan mereka mampu atau tidak dalam memukuk kayu yang berukuran kecil tersebut.

Selain itu, mereka juga belajar bagaimana cara memperoleh nilai tertingi secara bersama-sama dengan rasa saling membantu antar anggota tim. Mereka akan senantiasa saling bekerja sama dan bahu membahu untuk mencapai tujuan sebagai pemenang. 8.9 Tanggapan Masyarakat Begitu banyaknya manfaat yang diperoleh dalam permainan o wanggo. Oleh karena itu, permainan ini harus direvitalisasikan agar tetap lestari.

IX. Fela-Fela 9.1 Nama Permaninan Fela-fela adalah salah satu permainan tradisional dari Sentani, Kabupaten Jayapura yang dimainkan oleh anak-anak dengan menggunakan busur adan anak panah mainan. Fela-fela artinya panah-panah.

Fela-fela merupakan permainan memanah buah jarak yang dipendam dalam pasir. 9.2 Peristiwa/Waktu Permainan fela-fela dilakukan pada pagi atau sore hari ketika memanfaatkan waktu-waktu senggang sepulang sekolah atau pada hari libur. 9.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Berburu menggunakan panah adalah salah satu mata pencagarian masyarakat Sentani yang masih bertahan hingga saat ini. Untuk menunjang keberhasilan dalam berburu, kemampuan membidik sasaran harus terus diasah.

Salah satu cara mengasah kempampuan memanah adalah melakukan permainan panah-panahan. Sejak dini anak-anak laki-laki sudah diajari memanah menggunakan panah mainan. Masyarakat Sentani meyakini bahwa kemampuan memanah akan sangat bermanfaat bagi anak-anak mereka kelak. 9.4 Peserta/Pemain 9.4.1 Jumlah Pemain Pemain fela-fela ini berjumlah 2—4 orang.

Pemain dalam permainan fela-fela ini bersifat individual. Masing-masing pemain memainkan panahnya sendiri-sendiri. 9.4.2 Aturan Permainan Permainan fela-fela tidak memerlukan aturan khusus. Peserta dipersilakan memanah buah jarak yang dipendam dalam pasir.

Ketika pemain yang pertama memanah pemain kedua dan seterusnya menunggu giliran. Buah jarak yang terkena panah dikeluarka dari timbunan pasir. 9.4.3 Usia/Jenis Kelamin Pada umumnya permainan fela-fela dapat dimainkan oleh anak laki-laki dengan rentang usia lima sampai dengan sepuluh tahun hingga orang dewasa. 9.4.4 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan fela-fela ini. Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 9.5 Peralatan/Perlengkapan Perlangkapan yang diperlukan dalam permainan ini adalah busur (rum felai), anak panah (fela), dan buah jarak (khali).

Busur dapat dibuat dengan menggunakan batang pohon nibung (rum) atau bambu (holemba). Tali busur terbuat dari rotan (wabo) yang disebut dengan khe. Anak panah (fela) terbuat dari lidi daun sagu (yamungga). 9.6 Jalannya Permainan c) Persiapan Sebelum permainan fela-fela dimulai, pemain mengumpulkan buah khali untuk dikubur dalam pasir atau tanah yang gembur.

Setelah semua buah terkubur, gibuatlah lingkaran untuk membatasi area buah yang telah dikubur. Pemain menyiapkan busr dan anak panah masing-masing. Masing-masing pemain menyiapkan anak panah dengan jumlah yang sama. d) Inti Permainan Pemain pertama yang mendapat giliran untuk memanah ke arah dalam lingkaran.

Tanpa mengetahui di mana letah buah jarak anak-anak hanya menebak saja. Jika tembakan pertama berhasil mengenai buah khali, pemain pertama masih diberi kesempatan untuk memanah lagi. Begitu seterusnya hinggga pemain pertama gagal memanah buah jarak dan digantikan oleh pemain kedua.

Pemain kedua mendapatka giliran untuk memanah. Jika berhasil mengenai sasaran, ia melanjutkan memanah. Tetapi jika gagal ia akan digantikan oleh pemain ketiga atau kembali ke pemain perjama jika pemain hanya dua orang. e) Penentuan Pemenang Permainan yang berhasil memanah buah jarak paling banyak, ia dinyatakan sebagai pemenang dalam permainan ini. 9.7 Peranannya Masa Kini Permainan fela-fela membutuhkan kesabaran dan ketepatan.

Permainan fela-fela juga membutuhkan insting yang baik untuk memperkirakan di mana posisi sasaran. Dari semua keterampilan yang dibutuhkan untuk memainkan fela-fela rasanya sangat rugi jika permainan ini harus ditinggalkan oleh masyarakat Sentani. Nilai-nilai budaya yang melekat pada permainan ini layak untuk direvitalisasi.

X. Rukha Wanggo 10.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama rukha wanggo, yang diambil dari nama salah satu alat dalam permainan ini. Alat yang digunakan dalam permainan ini adalah sebuah batu kecil. Rukha hasai berasal dari dua kata.

Rukha berarti batu dan wanggo berarti main. Permainan rukha wanggo berarti permainan memainkan batu dengan cara menaruh batu di tangan pemain dan pemain lawan menebak di mana letak batu itu. Permainan ini juga disebut dengan istilah sekolah batu.

Tidak seperti namanya, permainan sekolah batu adalah permainan tebak-tebakan sambil menyanyikan sebuah lagu namun tidak menyebutkan sekolah batu. Permainan ini dimainkan oleh hampir seluruh masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura. 10.2 Peristiwa/Waktu Permainan rukha wanggo biasanya dimainkan saat bulan purnama. Permainan ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau adat-istiadat masyarakat Sentani. 10.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Masyarakat Sentani yang tinggal di seluruh pesisir Danau Sentani hidup bersahaja dari hasil meramu dan berburu.

Waktu malam dimanfaatkan untuk bersantai dan beristirahat setelah seharian bekerja memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Kesempatan berkumpul bersama keluarga dan masyarakat Sentani ini dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Salah satu salah satu permainan yang dapat dilakukan adalah permainan sekolah batu (rukha wanggo). 10.4 Latar Belakang sejarah dan Perkembangannya Permainan ini mulai ada di kalangan masyarakat Sentani sejak Injil masuk ke Pulau Asei yang dibawa oleh para misionaris dari maluku.

Hal ini dapat dibuktikan dengan syair lagu yang mengiringi permainan ini berbahasa Melayu Ambon. Sejak saat itu permainan rukha wanggo mulai tesebar di seluruh kawasan Danau Sentani. 10.5 Peserta/Pemain 10.5.1 Jumlah Pemain Permainan ini dimainkan dua kelompok dengan jumlah anggota sama banyak. Semakin banyak jumlah pemain semakin seru pula jalannya permainan ini. 10.5.2 Aturan Permainan Kedua kelompok duduk duduk rapat berhadap-hadapan.

Kelompok satu menebak kelompok dua yang tengah memainkan rukha yang akan diletakkan pada salah satu pemain. Kelompok dua akan menebak di mana batu itu ditaruh. Kelompok pertama menebak, jika tebakan benar anak yang memegang batu harus berdiri.

Jika tebakan salah maka giliran kelompok dua yang akan menjadi penebak. 10.5.3 Konsekuensi Kalah Menang Kelompok yang dapat menebak paling banyak di mana letak batu disembuyikan dianggap sebagai pemenag dalam permainan ini. 10.5.4 Usia Permainan ini biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja. 10.5.5 Jenis Kelamin Permainan rukha wanggo ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Karena kelak tidak hanya laki-laki saja yang dituntut untuk menangkap ikan tetapi juga perempuan juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menangkap ikan dengan cara rile. 10.5.6 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan rukha wanggo ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 10.6 Peralatan/Perlengkapan Peralatan atau perlengkapan yang digunakan dalam permainan adalah rukha, yaitu batu kecil yang dapat disembunyikan dalam genggaman. 10.7 Iringan Lagu/Musik Permainan ini tidak diiringi musik tetapi pemain yang meletakkan batu digenggaman tangan menyanyikan sebuah lagu dengan syair sabiji katumbar dua biji ganemu, siapa loko batu cabu rukukuku, caburukuku caburukuku caburukuku. 10.8 Jalannya Permainan a) Persiapan Kedua kelompok duduk atau berdiri saling berhadapan.

Tiap kelompok mengutus satu orang untuk berunding menentukan kelompok mana yang akan menjadi penebak atau kelompok yang menyembunyikan batu. Setelah semua siap, permainan rukha wanggo siap dimainkan. b) Inti Permainan Permainan ini dimainkan dua kelompok dengan jumlah anggota sama banyak dan akan duduk berdempet-dempetan sehingga tidak ada celah yang dapat dilihat kelompok lawan. Kedua kelompok akan duduk/berdiri berjauh-jauhan sambil berhadapan satu sama lain.

Salah satu pemain akan duduk di belakang pemain lain dan bertugas menjalankan batu sambil bernyanyi. Batu yang dipegang pemain tersebut akan dijalankan ditangan-tangan pemain lain di depannya yang tangannya disembunyikan di belakang sambil terbuka siap menampung batu. Pemain yang bertugas dibelakang akan meletakan sembarang batu itu ditangan salah satu pemain di depanya sebelum lagu berakhir.

Saat syair lagu sampai pada "caburukuku caburukuku caburukuku" pemain yang di depan akan mengangkat tangan mereka sambil menggoyangkannya ke depan dan menarik kebelakang sambil bernyanyi caburukuku caburukuku caburukuku. Saat lagu berakhir, kelompok lawan akan menebak di tangan siapa batu itu berada dan apabila benar, maka kelompok itu bergiliran untuk memainkan permainan ini dan kelompok yang tadi akan menebak, tapi bila salah maka mereka dinyatakan kalah dan kelompok pertama akan mengulang permainan. c) Penentuan Pemenang kelompok yang berhasil menebak paling banyak letak batu disembunyikan dinyatakan sebagai pemenang. 10.9 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini sudah tidak dimainkan lagi, namun demikian peranannya masih ada.

Mengingat permainan ini membutuhkan kejelian melihat, membaca mimik seseorang sehingga permainan ini memiliki peranan yang sangat penting jika terus dimainkan. Kejelian, kesabaran, dan kemampuan membaca mimik adalah beberapa kemahiran yang dibutuhkan untuk menjadi ahli psikologi, dokter jiwa, atau bahkan menjadi sandi negara. 10.10 Tanggapan Masyarakat Masyarakat Sentani berharap permainan ini dapat dimainkan lagi karena memiliki manfaat yang sangat banyak bagi perkembangan sosial anak-anak.

XI. Fum-Fum 11.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama fum-fum, yang diambil dari bunyi ketika alat dalam permainan ini dimainkan. Sebenarnya ini merupakan permainan perang-perangan menggunakan senjata dari bambu menggunakan peluru buah-buahan yang atau buah gugur di tanah atau buah koungei. 11.2 Peristiwa/Waktu Permainan fum-fum biasanya dimainkan saat waktu senggang sepulah sekolah.

Permainan ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan atau adat-istiadat masyarakat Sentani. 11.3 Latar Belakang sejarah dan Perkembangannya Asal-usul siapa pencipta permainan tradisional ini tidak di ketahui, yang pasti fum-fum juga ditemukan di beberapa daerah di Indonesia dengan sebutan yang berbeda-beda. Masyarakat Sunda menyebut permainan ini dengan istilah pepeletokan, di Betawi permainan ini diberi nama pletokan, di Probolinggo dan Madura permainan ini bernama tor cetoran. 11.4 Peserta/Pemain 11.4.1 Jumlah Pemain Permainan ini dimainkan dua kelompok dengan jumlah anggota sama banyak.

Semakin banyak jumlah pemain semakin seru pula jalannya permainan ini. 11.4.2 Aturan Permainan Aturan permainan utama fum-fum adalah apabila pemain telah tertembak tiga kali, maka pemain tersebut dianggap gugur. 11.4.3 Konsekuensi Kalah Menang Kelompok yang masih bertahan akan dinyatakan menjadi pemenangnya. Permainan juga ini bisa dilakukan lebih dari dua ronde apabila terjadi seri. 11.4.4 Usia dan Jenis Kelamin Permainan ini biasanya di mainkan oleh anak laki-laki umur sekitar 7—15 tahunan, mereka berimajinasi bahwa pada saat bermain permainan tersebut layaknya berada di medan pertempuran. 11.4.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan fum-fum ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 11.5 Peralatan/Perlengkapan Peralatan yang digunakan dalam permainan fum-fum adalah senjata mainan yang terbuat dari bambu (holomba) dengan peluru berasal dari kertas yang dibasahi, buah jambu muda, atau buah koungei. Cara pembuatan peralatan permainan fum-fum adalah sebagai berikut.  Siapkan bambu yang kuat dan sudah berusia cukup tua agar tidak mudah pecah, yang kemudian bambu tersebut di bagi menjadi dua yaitu laras dan penyodok.

Untuk membuat penyodok, kita harus membuatnya seperti lidi panjang yang memiliki handle atau pegangan di bagian ujungnya. pastikan penyodoknya dapat masuk ke dalam lubang laras, tidak longgar maupun terlalu sempit. Sedangkan untuk bagian atas penyodok dibuat agak lebar, yang bertujuan untuk menekan atau memukul peluru/amunisi agar bisa masuk ke dalam lubang laras dengan sempurna.  Dalam membuat laras, siapkan sebuah bambu berukuran kecil, dengan diameter sekitar 1—1,5 cm dan panjangnya antara 15 —20 cm.

Disarankan untuk membuat laras pletokan ini terbuat dari bambu yang tua agar tidak mudah belah atau pecah.  Siapkan peluru yang terbuat dari kertas yang di basahi, biasannya peluru yang bagus menggunakan kertas bekas yang basahi. Bisa juga menggunakan buah-buahan yang berukuran kecil, seperti koungei atau jambu. 11.6 Jalannya Permainan a) Persiapan Kedua kelompok duduk atau berdiri saling berhadapan. Tiap kelompok mengutus satu orang untuk berunding menentukan kelompok mana yang akan menjadi penebak atau kelompok yang menyembunyikan batu.

Setelah semua siap, permainan fum-fum siap dimainkan. b) Inti Permainan Setelah senjata selesai dibuat, permainan akan dibagi menjadi dua tim yang saling berhadap-hadapan untuk melakukan peperangan. Tetapi, kita harus mengetahui bagaimana cara menembak dengan pletokan. Masukkan peluru menggunakan tolak sampai ke ujung bedil laras.

Setelah itu dimasukkan peluru kedua dan ditolak dengan batang penolak. Peluru yang kedua ini memiliki fungsi ganda. Fungsi pertama adalah sebagai klep pompa untuk menekan peluru pertama yang akan ditembakkan.

Kemudian fungsi kedua adalah menjadi peluru yang disiapkan untuk ditembakkan berikutnya. c) Penentuan Pemenang Permainan akan berakhir apabila jumlah anggota salah satu kelompok telah habis tertembak. Kelompok yang masih bertahan akan dinyatakan menjadi pemenangnya. Permainan juga ini bisa dilakukan lebih dari dua ronde apabila terjadi seri. 11.7 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini mengajarkan kita atau anak-anak pentingnya bekerja sama dan membangun strategi untuk meraih sebuah kemenangan.

Permainan ini mencerminkan peperangan pada zaman dahulu, khususnya pada saat penjajahan yang belum menggunakan senjata modern seperti pistol. 11.8 Tanggapan Masyarakat Permainan tradisional ini sudah jarang sekali di mainkan oleh anak-anak, bahkan terancam punah, sangat di sayangkan memang. Oleh karena itu, masyarakat berharap supaya anak-anak generasi sekarang tidak melupakan jenis permainan tradisional. XII.

Oro Phaeikho-Phaeikho 12.1 Nama Permainan Permainan ini dalam bahasa Sentani bernama oro phaeikho-phaeikho. Oro artinya kaki dan phaeikho-phaeikho artinya hitung-hitung. Oro phaeikho-phaeikho dapat diartikan sebagai perlombaan lari mengelilingi Pulau Asei.

Permainan ini dimainkan oleh masyarakat Pulau Asei, di Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. 12.2 Peristiwa/Waktu Permainan oro phaeikho-phaeikho biasanya dilakukan pada sore hari menjelang matahari terbenam. Untuk mengisi waktu luang setelah pulang bekerja mencari ikan atau meramu dari dusun sagu dibuatlah kegiatan yang bermanfaat untuk melatih kecepatan lari. 12.3 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Awal mula sajarah permainan oro phaeikho-phaeikho tidak diketahui dengan pasti.

Permainan ini sudah dikenal sejak lama, turun-temurun dari generasi ke generasi. Oro phaeikho-phaeikho merupakan permainan yang sangat digemari oleh masyarakat Sentani Timur yang dulu tinggal di Pulau Asei. Kenyataan ini mulai berangsur-angsur hilang seiring dengan mulai penuhnya pesisir/pinggiran Pulau Asei dengan bangunan. 12.4 Peserta/Pemain 12.4.1 Jumlah Pemain Permainan ini tidak ditentukan jumlah pemainnya.

Bergantung pada jumlah pemuda yang hadir saat akan dilaksanakannya lomba oro phaeikho-phaeikho. Semakin banyak jumlah pemain semakin seru juga jalannya oro phaeikho-phaeikho. 12.4.2 Aturan Permainan Aturan dalam permainan oro phaeikho-phaeikho sangat sederhana. Peserta hanya berlari mengelilingi Pulau Asei dimulai dari titik awal hingga kembali lagi ke titik semula. 12.4.3 Usia Permainan oro phaeikho-phaeikho biasanya diikuti anak-anak remaja.

Pemilihan remaja sebagai peserta karena dianggap akan menjadi penerus suku yang harus dibekali dengan berbagai kecakapan hidup. 12.4.4 Jenis Kelamin Permainan oro phaeikho-phaeikho ini dimainkan oleh anak laki-laki. 12.4.5 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan oro phaeikho-phaeikho ini. Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 12.5 Peralatan/Perlengkapan Hu (tiang), hu dijadikan titik awal sekaligus titik akhir dalam permainan ini.

Peserta berkumpul di sekitar hu untuk memulai perlombaan dan berhenti pula di hu saat pelari mengakhiri lombanya. 12.6 Jalannya Permainan a) Persiapan Peserta lomba berkumpung di sekitar hu. Mereka bersiap untuk lomba lari mengelilingi Pulau Asei sambil mendengar aba-aba. b) Inti Permainan Oro phaeikho-phaeikho dimulai ketika aba-aba lari sudah diberikan oleh salah satu tua adat. Peserta lomba lari mulai berlari Perlombaan mendayung sampan dimulai dengan hitungan bersama ibu-ibu.

Setelah hitungan ketiga perlombaan dimulai. Dayung diayunkan ke dalam air dan perahu pun meluncur. Mereka terus mendayung saling berkejar-kejaran.

Suara riuh anak-anak perempuan di bagian tengah sampan memberi semangat mereka. c) Penentuan Pemenang Pemenang yaitu yang sampai terlebih dahulu pada garis finish yang telah disepakati bersama. Pemain yang menang akan mendapatkan hadiah berupa buah-buahan, seperti kelapa (kho), jambu (buloli), dan pisang (keija). 12.7 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini sudah tidak dimainkan lagi. Pesisir pulau Asei yang dulu kosong kini sudah penuh dihuni olah masyarakat sehingga tidak terdapat lagi ruang untuk lomba lari. 12.8 Tanggapan Masyarakat Permainan oro phaeikho-phaeikho sebenarnya memberi manfaat yang sangat baik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran para pemuda Sentani. masyarakat menyanyangkan punahnya permainan ini.

Mereka meminta semua pihak untuk berperan aktif untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang telah punah ini. XIII. Bhu Hingge-Hingge Bhu hingge-hingge berarti riak-riak air.

Permainan ini merupakan permainan yang menggunakan potongan kayu yang didorong di air danau yang dangkal. Akibat dorongan batang kayu itulah yang menyebabkan riak-riak air bermunculan. Bhu hingge-hingge biasanya dilakukan oleh anak-anak yang baru belajar berenang.

Batang kayu yang dapat mengapung di air sebagai alat yang menjaga anak ketika akan tenggelam dapat meraih batang kayu tersebut. Permainan ini dilakukan pada siang atau sore hari ketika waktu senggang atau menyesuaikan waktu luang orang tua yang turut mengawasi anak berlatih berenang. Peralatan yang digunakan untuk mendukung permainan ini adalah batang kayu yang mudah mengapung di air.

Tujuan utama permainan ini adalah mengajarkan anak-anak Sentani/anak-anak danau untuk belajar berenang. Batang kayu ditaruh di atas permukaan air yang dangkal. Anak-anak memegang salah satu ujung kayu.

Batang kayu didorong sejajar dengan pinggiran danau. Dorongan yang cepat dapat mengakibatkan riak air yang besar. Riakan air mencipati wajah dan tubuh ini membuat anak-anak tertawa riang.

Setelah sekian lama mendorong batang kayu semakin besar pula anak tersebut. Arah dorongan juga ke arah air yang agak dalam. Kaki yang semula menyentuh dasar danau lama kelamaan akan mengapung.

Dari sinilah proses belajar berenang dimulai. XIV. Erau 14.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama Erau.

Erau berarti layar. Permainan ini merupakan lomba kecepatan perahu menggunakan layar yang terbuat dari pelepah daun sagu. Permainan ini berasal dari masyarakat Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. 14.2 Peristiwa/Waktu Permainan erau biasanya dilakukan pada siang atau sore hari selepas pulang bekerja. 14.3 Latar Belakang sejarah dan Perkembangannya Masyarakat Sentani yang tinggal di Pulau Asei memiliki tanah ulayat yang sangat luas terbentang mulai dari Kampung Nolokla di sebelah barat dan daerah padang bulan di sebelah timur.

Masyarakat Asei berkebun, meramu sagu, dan berburu hingga jauh ke timur atau ke utara arah Gunung Robongholo. Kebun-kebun atau dusun-dusun masyarakat Asei bartampat Melai, Yabansai, Buper, Trata, atau Klimbe. Biasanya mereka akan kembali ke pulau pada waktu siang atau sore hari ketika hasil kebun, meramu, dan berburu telah berhasil.

Mereka telah lelah bekerja seharian. Untuk mendayung lagi ke kampung diperlukan banyak tenaga. Mereka, orang-orang tua zaman dahulu masih bersabahat dengan alam.

Untuk memudahkan perjalanan pulang ke Pulau Asei, mereka meminta bantuan angin timur. 14.4 Peserta/Pemain 14.4.1 Jumlah Pemain Peserta yang mengikuti lomba erau tidak terbatas jumlahnya, bergantung pada jumlah orang dan perahu yang digunakan untuk pulang bersamaan menuju Kampung Asei. Biasanya perserta yang mengikuti lomba erau berjumlah 5 sampai 10 perahu. 14.4.2 Aturan Permainan Permainan erau merupakan lomba perahu layar tradisional dengan menggunakan pelepah daun sagu sebagai layar.

Perombaan ini dimulai dari Tanjung Osai hingga berakhir di Pulau Asei. Lomba perahu layar tradisional ini sangat unik karena memakai bantuan angin timur. Jika angina timur tidak bertiup sacara alami, peserta lomba akan memakai hobatan untuk memanggil angin.

Angin dipanggil menggunakan ritual adat terlebih dahulu. 14.4.3 Usia dan Jenis Kelamin Permainan ini biasanya dilakukan oleh para pemuda dan laki-laki dewasa yang disertai oleh beberapa orang tua. 14.4.4 Kelompok Sosial Permainan erau dapat dimainkan oleh siapa saja asal disertai oleh orang tua yang memiliki kemampuan untuk memanggil angin. 14.5 Peralatan/Perlengkapan Peralatan yang digunakan dalam permainan erau adalah perahu, layar, dan mantra pemanggil angin.

Layar (erau) terbuat dari daun sagu yang masih menempel di pelepahnya. Perahu yang digunakan biasanya adalah perahu yang besar, yang muat beberapa orang. Perahu ini mirip dengan perahu perempuan (kai).

Mantra (buloo/puloo) yang digunakan adalah mantra pemanggil angin timur. 14.6 Jalannya Permainan a) Persiapan Salah seorang peserta lomba erau merapal mantra untuk memanggil angin timur. Biasanya yang bertugas memaggil angin adalah abu afa, salah seorang perangkat adat dalam struktur pemerintahan adat Sentani. Prosesi memanngil angin ini diawali dengan membasuh sebuah batu yang terdapat di Tanjung Osai.

Batu ini diberi nama ena rukha (batu angin) karena batu ini dapat membatu mendatangkan angin. Batu dibasuh dengan air Danau Sentani sambil dibacakan mantra. Tak lama setelah itu angin perlahan-lahan berembus dari arah timur.

Ketika angin mulai membesar tibalah saatnya lomba dimulai. b) Inti Permainan Layar dari daun sagu telah terpasang di perahu masing-masing. Biasanya pelepang daun sagu dipasang dua dengan bentuk melintang ke arah kiri dan kanan perahu. Ketika angin telah bertiup kencang lomba erau telah dimulai.

Perahu mulai melaju perlahan ditiup angin. Lama-kelamaan perahu mulai melaju dengan kencang mengikuti tiupan angin yang berasal dari timur. Penumpang di perahu tidak mendayung lagi, hanya mengarahkan perahu agar tepat sasaran menuju Pulau Asei.

Perahu-perahu saling berkejar-kejaran di tiup angin. Perahu yang layarnya terpasang dengan tepat akan melaju lebih kencang. Angin yang bertiup kencang membuat air danau bergelombang.

Gelombang air inilah yang membuat perlombaan semakin seru karena perahu terempas-empas gelombang sambil melaju kencang. c) Penentuan Pemenang Pemenang lomba erau yaitu peserta yang dapat mencapai Kampung Asei terlebih dahulu. 14.7 Tanggapan Masyarakat Ketika injil mulai masuk ke Kampung Asei, segala hal yang berbau kesyirikan mulai dilarang demikian pula dengan praktik puloo/hobatan. Lomba erau juga terkena dampaknya. Sejak saat itu tidak ada lagi lomba erau.

Masyarakat Sentani yang pulang dari bekerja harus bersusah payah lagi untuk mencapai rumah. Berbagai tanggapan masyarakat mencul akibat pelarangan ini, ada yang setuju ada pula yang tidak. Yang setuju beranggapan bahwa itu adalah kekayaan budaya yang patut untuk dilanjutkan karena dapat membantu mengatasi kesulitan masyarkat.

Yang setuju memiliki anggapan bahwa mantra dan sejenisnya bertentangan dengan iman Kristiani mereka. XV. Afene Fene 15.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama afene fene.

Afene fene terdiri dari dua kata, yakni a dan fene. A artinya tempat fene artinya licin. Masyarakat Sentani mengartikan afene fene sebagai bermain di tempat yang licin, yakni bermain seluncuran dari atas bukit menggunakan pelepah kelapa kering. 15.2 Peristiwa/Waktu Permainan afene fene biasanya dimainkan oleh anak-anak untuk mengisi waktu snggang pada sore hari.

Afene fene dimainkan tidak berkaitan dengan peristiwa atau kegiatan tertentu. 15.3 Latar Belakang Sosial dan Budaya Pulau Asei atau Ohei merupakan sebuah pulau yang terletak di sebelah timur danau Sentani dengan kontur yang berbukit. Dulu pulau ini banyak ditumbuhi pohon kelapa. Masyarakat Pulau Asei memanfaatkan kelapa untuk berbagai kepentingan.

Salah satu bagian kelapa yang dimanfaatkan adalah pelepah daunya. Pelepah daun kelapa yang sudah kering dimanfaatkan anak-anak untuk bermain seluncuran dari atas bukit Pulau Asei menuju pinggiran danau. 15.4 Peserta/Pemain 15.4.1 Jumlah Pemain Permainan afene fene biasanya dimainkan oleh sekelompok anak. Jumlah tidak terbatas, semakin banyak semakin seru pula permainan afene fene ini. 15.4.2 Aturan Permainan Permainan afene fene tidak memiliki banyak aturan yang baku.

Pemain hanya meluncur dari atas bukit menggunakan pelepah daun kelapa yang sudah kering. Pemain meluncur sambil berpegangan pangkal pelepah atau tanpa berpegangan. Jika bermain secara individual, pemain hanya meluncur satu per satu.

Jika dimainkan untuk perlombaan, peserta dapat terdiri dari dua atau tiga orang yang meluncur bersamaan. Pemain yang sampai ke bagian bawah bukit dinyatakan sebagai pemenang permainan afene fene. 15.4.3 Usia dan Jenis Kelamin Permainan ini dimainkan oleh anak-anak laki-laki atau perempuan dengan usia 6—10 tahun. 15.5 Peralatan/Perlengkapan Alat yang digunakan dalam permainan ini sangat sederhana dan mudah didapatkan. Alat yang digunakan yaitu pelepah daun kelapa yang dalam bahasa Sentani disebut yokulwai. 15.6 Jalannya Permainan Permainan afene fene dimainkan secara perorangan.

Peserta bersiap di atas bukit dengan kemiringan yang landai. Jika afene fene dimainkan secara indidual peserta hanya meluncur saja satu per satu dari atas bukit. Bukit yang dijadikan tempat meluncur ini biasanya ditumbuhi oleh alang-alang.

Alang-alang yang dilewati oleh pelepah daun kelapa (yokulwai) menjadi rubuh sehingga membuat licin jalir seluncuran. Semakin banyak yang meluncur semakin licin pula jalurnya. Jika dimainkan untuk dilombakan maka pemain berjejer bersebelahan.

Pemain duduk di atas yokulwai sambil perpegangan pada pangkal yokulwai. Satu orang anak menjadi pemandu jalannya permainan afene fene. Dalam hitungan ketiga peserta meluncur ke bawah.

Pada awalnya untuk meluncurkan yokulwai dibantu dengan menggunakan kedua kaki. Ketika sudah meluncur kaki dinaikkan ke atas batang yokulwai. Pemain meluncur ke bawah dengan cepat, ada pemain yang berhasil mencapai bawah ada pula yang gagal karena jatuh.

Peserta yang jatuh biasanya tidak mampu menjaga keseimbangan ketika sedang meluncur. Peserta yang berhasil mencapai garis finish tanpa jatuh dari atas yokulwai dinyatakan sebagai pemenang. 15.7 Tanggapan Masyarakat Permainan afene fene sudah tidak dimainkan lagi oleh masyarakat Sentani khususnya di Pulau Asei. Hal ini disebabkan oleh semakin tergerusnya perminan ini dengan permainan modern juga diakibatkan oleh semakin habisnya lahan sebagai tempat permainan.

Masyarakat Sentani berharap permainan ini dihidupkan kembali karena memiliki manfaat yang sangat banyak bagi perkembangan hidup anak-anak. Permainan ini dapat menumbuhkan sifat solidaritas sesama pemain. Pemain diajarkan bersikap jujur ketika bermain, karena salah satu aspek kemenangan ini diukur dari jatuh atau tidaknya peserta dari yokulwai.

Bisa saja anak jatuh ketika bermain dan dia berhasil menjapai garis finish duluan. Jika ia bermain curang bisa saja ia mengaku tidak jatuh dan dinyatakan sebagai pemenang. XVI.

Hembeli Wanggo 16.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama hembeli wanggo. Hembeli wanggo terdiri dari dua kata, yakni hembeli dan wanggo. Hembeli artinya pelepah sagu (gaba-gaba) wanggo artinya main.

Masyarakat Sentani mengartikan hembeli wanggo sebagai pukul gaba-gaba atau bermain pelepah sagu. Permainan ini dilakukan dengan empat orang memegang empat tongkat pelepah sagu memakai tongkat membentuk palang dan menggerak-gerakkannya sementara orang lainnya harus melompat-lompati bagian celahnya agar tidak terjepit pelepah sagu. 16.2 Peristiwa/Waktu Permainan hembeli wanggo biasanya dimainkan saat masyarakat Sentani telah selesai meramu sagu atau setelah panen fam/ubi jalar. 16.3 Latar Belakang sejarah dan Perkembangannya Pada awalnya permainan ini digunakan untuk merayakan hasil panen pertanian dan perkebunan masyarakat Manggarai.

Masyarakat Manggarai menyebut permainan ini dengan istilah rangku alu. Mereka merayakan dengan penuh suka cita dan rasa syukur berkat keberhasilan panennya. Perkembangan permainan ini sangat pesat pada zamannya hingga mencapai Papua, khususnya Sentani.

Masyarakat Sentani menyebut permainan ini dengan istilah hembeli wanggo. 16.4 Peserta/Pemain 16.4.1 Jumlah Pemain Biasanya permaiana hembeli wanggo ini dimainkan oleh dua regu yang masing-masing terdiri dari 4 atau sampe 6 orang. Cara bermain hembeli wanggo itu sendiri biasanya masing-masing regu memiliki giliran bermain dan giliran berjaga, tugas dari regu penjaga ini yaitu memegang setiap ujung hembeli dan mengetuk atau bermain sesuai dengan irama sedangkan regu yang mendapat giliran bermain harus bisa melompat di sela-sela hembeli yang sedang diketuk-ketuk. 16.4.2 Aturan Permainan Pemain hembeli wanggo dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang bermain dan kelompok yang berjaga.

Kelompok yang berjaga terdiri dari empat sampai enam orang yang membentuk persegi dan bertugas menggerakkan hembeli, masing-masing yang berjaga jongkok atau duduk dengan memegang dua bilah hembeli, begitupun dengan yang berjaga lainnya. Kelompok yang mendapat giliran untuk bermain akan melompat di sela-sela hembeli dan menghindari jepitan hembeli. Terdapat satu sampai empat orang yang mendapat giliran bermain.

Pada saat bermain, pemain dilatih untuk bergerak sesuai irama dan berkonsentrasi agar tidak terpeleset atau terjepit. Saat ada pemain yang kakinya terjepit, kelompok yang berjaga akan bergantian untuk bermain. 16.4.3 Usia dan Jenis Kelamin Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa. 16.4.4 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan hembeli wanggo ini. Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 16.5 Peralatan/Perlengkapan Alat yang digunakan dalam permainan ini sangat sederhana dan mudah didapatkan.

Alat yang digunakan yaitu 4 buah hembeli/gaba-gaba atau pelepah sagu kering dengan panjang 2 meter. 16.6 Iringan Lagu Permainan ini diiringi lagu dengan judul Sebagai Biduk Perak. Lagu ini berasal dari kumpulan lagu Serulis Mas karya Pendeta I.S. Kijne. Berikut ini lagu yang dinyanyikan untuk mengiringi permainan hembeli wanggo.

Sebagai Biduk Perak Sebagai biduk perak melancar bulan t’rang di dalam air biru semudera tenang. Tak ada ribut lagi dan hujan pun teduh. Di hutan kedengaran suara yang merdu.

Yang tua, di serambi, bercakap-cakapan. Yang muda mau menari dengan teman-teman. Loncatan gaba-gaba: tuk-tuk, tak-tak, tuk-tuk.

Berbunyi ramai-ramai di hawa yang sejuk. Melihat dari atas tempat kesukaan. Kelapa yang melambai berbisik-bisikan: “Jikalau bersehati, manusia senang; sejahtera mau diam di hati yang teran. 16.7 Jalannya Permainan Permainan hembeli wanggo dimainkan oleh dua kelompok.

Satu kelompok sebagai penjaga, sedangkan kelompok lainnya sebagai pemain. Kelompok yang bertugas sebagai penjaga, jumlahnya adalah empat orang. Masing-masing memegang batang hembeli di ujungnya.

Kelompok yang berjaga membentuk pola persegi dan menggerakkan hembeli. Masing-masing kelompok yang berjaga mengambil posisi jongkok atau duduk dengan memegang dua hembeli. Dua pasang batang hembeli dibuat saling menyilang membentuk huruf X, dan mereka yang berjaga juga harus membuka tutup hembeli di tangan mereka sesuai dengan irama.

Selanjutnya, giliran satu orang yang dapat bermain, ia akan masuk ke dalam hembeli yang berbentuk bidang persegi dengan menari dan melompat-lompat. Satu orang ini akan berusaha untuk menghindari jepitan hembeli yang dibuka tutup oleh kelompok penjaga. Saat bermain, biasanya hembeli yang digerakkan menghasilkan nada atau irama yang berpola.

Semakin lama, irama hembeli dan nyanyiannya akan semakin cepat. Pemain harus pintar-pintar dalam melompat agar tidak terpeleset ataupun terjepit bambu. Apabila kaki si pemain terkena jepitan bambu, maka ia harus berganti giliran dengan pemain selanjutnya. 16.8 Tanggapan Masyarakat Selain sarana hiburan, hembeli wanggo juga dapat menjadi sarana edukasi dan pembentukan karakter diri.

Bermain hembeli wanggo dapat melatih konsentrasi dan melatih ketepatan dalam bertindak, karena tak hanya melompat-lompat asal, dalam permainan ini perlu fokus antara gerak kaki dan gerak hembeli yang dimainkan harus sesuai. Kalau tidak fokus atau tidak konsentrasi, nantinya kaki pemain akan terjepit bambu atau malah terpeleset. Permainan ini sudah tidak dimainkan lagi oleh masyarakat Sentani. diperlukan kepedulian semua pihak agar permainan tradisional yang pernah ada di Sentani ini dihidupkan kembali mengingat manfaat dari permainan tradisional ini sangat besar.

XVII. Ofongga Okhoi-khoi 17.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama ofongga okhoi-khoi. Diberi nama ofongga okhoi-khoi karena berasal dari salah satu nama dari frasa ini, yakni ofongga.

Ofongga okhoi-khoi terdiri dari dua kata, yakni ofongga dan okhoi-khoi. Ofongga artinya lidi dan okhoi-khoi berartinya bermain. Masyarakat Sentani mengartikan ofongga okhoi-khoi sebagai bermain lidi dengan cara menghambur lidi dan mengangkat satu per satu lidi tanpa menggerakkan lidi yang lain. 17.2 Peristiwa/Waktu Waktu yang sering dipakai untuk bermain ofongga okhoi-khoi adalah waktu senggang, bisa pagi, siang, atau sore hari.

Namun biasanya permainan ini dilakukan pada siang hari, karena diperlukan cahaya yang terang. 17.3 Latar Belakang Sosial dan Budaya Pada dasarnya permainan ofongga okhoi-khoi ini merupakan simbol kehidupan bermasyarakat di kampung. Terdapat seorang pemimpin dan banyak rakyat yang disimbolkan dengan lidi pelepah daun sagu (ofongga). Seorang ondofolo biasanya memiliki kekuasaan yang besar, sedangkan rakyat (masyarakat) digambarkan sama.

Ondofolo dapat memerintah/menolong rakyatnya yang mengalami kesulitan dengan mudah. Akan tetapi, sesama rakyat biasanya sukar atau memiliki keterbatasan kemampuan dalam membantu sesamanya. Ondofolo juga memiliki fasilitas yang memadai untuk membantu warganya yang sedang mengalami kesulitan.

Permainan tradisional ini termasuk salah satu permainan yang memakai alat, yaitu lidi karena mudah diperoleh atau dalam istilah bahasa Sentani disebut ofongga. Selain itu, juga menggunakan kapur atau sejenisnya untuk menggaris kotak sebagai pembatas permainan. Jenis permainan ini tidak banyak menguras tenaga, hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Sehingga permainan ini bersifat santai untuk menghilangkan rasa lelah. 17.4 Peserta/Pemain 17.4.1 Jumlah Pemain Permainan ofongga okhoi-khoi biasanya dimainkan oleh 2—4 orang. Permainan ini dapat dimainkan secara individu maupun berkelompok. 17.4.2 Aturan Permainan Permainan ofongga okhoi-khoi memiliki banyak aturan yang sederhana. Ofongga dijatuhkan ke dalam kotak atau lingkaran yang telah dibuat di lantai atau tanah yang datar dengan jarak ketinggian 30 cm dari atas lantai.

Setelah itu lidi diambil satu per satu tanpa membuat lidi yang lain bergoyang atau bergerak. Ketika lidi yang kita angkat mengakibatkan lidi yang lain bergoyang, kita dinyatakan kalah dan digantikan oleh teman sekelompok lain jika kita bermain berkelompok. Jika bermain secara individu maka akan digantikan dengan pemain lawan.

Untuk mengambil lidi yang bertumpuk dapat menggunakan lidi yang telah berhasil kit aangkat dari tumpukan. 17.4.3 Usia dan Jenis Kelamin Permainan ini dimainkan oleh anak-anak laki-laki atau perempuan dengan usia 6—12 tahun. 17.5 Peralatan/Perlengkapan Alat yang digunakan dalam permainan ini sangat sederhana dan mudah didapatkan. Alat yang digunakan yaitu ofongga (lidi yang terbuat dari tulang daun sagu) yang dipotong pendek sekitar 10—15 cm. 17.6 Jalannya Permainan Langkah awal untuk memainkan ofongga okhoi-khoi adalah menentukan permainan ini akan dimainkan secara individu atau berkelompok.

Setelah itu, dibuatlah lingkaran atau kotak dengan menggunakan kapur atau menggaris ke lantai sebagai arena permainan ofongga okhoi-khoi. Pemain pertama mengenggam lidi dengan posisi vertikal setinggi 30 cm dari atas permukaan lantai. Setelah ofongga terhambur di lantai, dimulailah permainan.

Pemain mengangkat lidi-lidi yang berhamburan. Ambillah lidi-lidi yang posisinya tidak bertumpuk dengan lidi yang lain. Mulailah dengan mengambil lidi yang mudah diangkat kemudian beralih ke lidi yang posisinya sukar untuk diangkat.

Pemain dapat menggunakan lidi yang berhasil diangkat sebagai alat bantu. Ketika mengankat lidi mengakibatkan lidi lain bergerak maka pemain dinyatakan mati atau kalah. Ia akan digantikan teman satu kelompok jika bermain secara berkelompok.

Akan tetapi jika bermain secara individu ia akan digantikan oleh pemain lawan. Permainan ini terus dilakukan secara bergiliran sampai lidi yang berhambur di lantai berhasil diangkat. Pemain yang berhasil mengangkat lidi paling banyak dinyatakan sebagai pemenang.

XVIII. Kayowa Yowaika 18.1 Nama Permaninan Permainan ini diberi nama kayowa yowaika. Diberi nama kayowa yowaika karena berasal dari salah satu nama dari frasa ini, yakni kayowa.

Kayowa yowaika terdiri dari dua kata, yakni kayowa dan yowaika. Kayowa artinya buah kayowa dan yowaika berartinya bermain. Masyarakat Sentani mengartikan kayowa yowaika sebagai menebak letak buah kayowa yang disembunyikan dalam tanah. 18.2 Peristiwa/Waktu Waktu yang sering dipakai untuk bermain kayowa yowaika adalah waktu senggang, bisa pagi, siang, atau sore hari.

Permainan ini hanya dimainkan ketika buah kayowa sudah matang dan berwarna merah. 18.3 Latar Belakang Sosial dan Budaya Salah satu upaya untuk menanamkan nilai kejururan dan kecermatan pada anak yang dilakukan oleh masyarakat Sentani adalah dengan menciptakan permainan kayowa yowaika. Permainan ini membutuhkan kejujuran pemain, pemain tidak boleh melihat atau mengintip saat kayowa disembunyikan. Padahal bisa saja para penebak mengintip disaat pemain yang menyembunyikan kayowa sedang sibuk bekerja.

Jika ada yang mengintip atau melihat maka akan mendapat koneskuensi langsung yaitu mengulang menyembunyikan buah kayowa. Sementara pemain yang mengintip akan diejek oleh pemain lain. Ini akan menyebabkan pengintip merasa malu.

Selain itu, permainan ini juga melatih kecermatan dalam menebak. Dari sisi pemain yang menyembunyikan kayowa juga terdapat keterampilan yang dapat dikembangkan sebagai karakter hidup, yaitu kemampuan untuk membuat strategi. 18.4 Peserta/Pemain 18.4.1 Jumlah Pemain Permainan kayowa yowaika biasanya dimainkan oleh banyak anak. Semakin banyak yang main semakin seru pula jalannya permainan. 18.4.2 Aturan Permainan Permainan kayowa yowaika memiliki banyak aturan yang sederhana.

Seorang pemain dipilih untuk menyembunyikan buah kayowa. Ketika menyembunyikan buah ini semua pemain yang akan menebak membalikkan badan agar tidak melihat. Pemain kemudian menebak di mana buah kayowa disembunyikan, jika tebakan salah digantikan oleh pemain lain untuk menebak.

Jika tebakan benar, pemain yang menyembunyikan kayoba berganti menjadi penebak. 18.4.3 Usia dan Jenis Kelamin Permainan ini dimainkan oleh anak-anak laki-laki atau perempuan dengan usia 6—12 tahun. 18.5 Peralatan/Perlengkapan Alat yang digunakan dalam permainan ini sangat sederhana dan mudah didapatkan. Alat yang digunakan yaitu buah kayowa (buah hutan yang berwarna merah, besarnya seperti biji jagung). Selain itu, juga tempat yang digunakan untuk bermain, yaitu sebuah lingkaran di tanah yang berpasir sebagai tempat untuk menyembunyikan buah kayowa. 18.6 Jalannya Permainan Langkah awal untuk memainkan kayowa yowaika adalah menentukan siapa yang akan penjadi penebak dan pemain yang menyembunyikan buah kayowa.

Setelah itu, dibuatlah lingkaran di atas tanah sebagai tempat untuk menyembunyikan kayowa. Para penebak membelakangi pemain yang menyembunyikan kayowa. Penebak dilarang melihat atau mengintip.

Pemain yang menyembunyikan koyowa mulai beraksi. Kayowa disembunyikan di salah satu titik dalam lingkaran. Dibuatlah gundukan kecil untuk menutup buah kayowa.

Agar tidak mudah ditebak di mana letak buah kayowa maka dibuatlah tiruan gundukan-gundukan tanah lainnya. Pemain hanya diberi kesempatan satu kali untuk menebak. Jika tebakan salah, akan digantikan oleh pemain lain.

Jika tebakan benar, penebak akan menjadi orang yang menyembunyikan kayowa. Permainan terus dilakukan hingga semua pemain diberi kesempatan untuk menebak. Permainan diulang-ulang untuk mendapatkan siapa yang paling banyak menebak dengan benar.

Pemain yang menebak benar paling banyak, ia dinobatkan sebagai pemenang dalam permainan kayowa yowaika. XIX. Filim Yalei-Yalei 19.1 Nama Permaninan Nama permainan ini ialah filim yalei-yalei.

Frasa ini terdiri dari dua pengertian yakni filim dan yalei-yalei. Filim artinya pelepah sagu. Yalei-yalei berarti melempar atau menggelindingkan.

Filim yalei-yalei bermakna melemparkan atau melemparkan pelepah sagu. Pelepah sagu yang dimaksud dalam pengertian ini yaitu pelepah sagu yang telah dibuat menjadi bulatan sehingga mudah digelindingkan. Permainan ini berasal dari masyarakat Sentani yang tinggal di Kampung Yahim Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. 19.2 Peristiwa/Waktu Permainan filim yalei-yalei dapat dimainkan apabila tanaman bete sejenis keladi yang baru saja ditanam sudah mulai mengeluarkan pucuk-pucuk daun mudanya.

Permainan ini dimainkan pada pukul 12.00 hingga pukul 14.00. Setelah istirahat, permainan dilanjutkan lagi pada pukul 15.00 hingga tiba waktu petang. Apabila pada hari itu ada pemain yang belum bertanding akan dilanjutkan pada keesokan harinya. 19.3 Latar Belakang Sosial/Budaya Masyarakat Sentani menggantungkan hidupnya dari hasil meramu, berkebun, berburu, dan menangkap ikan di sungai dan di danau.

Dari hasil kerja inilah yang mengilhami masyarakat sentani untuk mengadakan permainan filim yalei-yalei. Bahan-bahan yang digunakan untuk bermain filim yalei-yalei sangat sederhana. Semuanya berasal dari alam yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka, seperti pelepah sagu, bahan pembuat busur, anak panah, mata panah, dan lain-lain.

Kondisi sosial budaya inilah yang melatarbelakangi lahirnya permainan filim yalei-yalei ini. 19.4 Latar Belakang sejarah dan Perkembangannya Mata pencaharian masyarakat Sentani di masa lampau sebagai peramu dan pemburu mengharuskan mereka untuk mahir memanah. Dari latar belakang tersebut muncullah ide masyarakat untuk melatih anak-anak mereka melalui permainan filim yalei-yalei. Dengan demikian secara tidak disadari, anak-anak telah ditanamkan suatu keterampilan yang berguna bagi kehidupannya dan keluarganya.

Misalnya, berburu binatang dengan dengan memanah, memanah ikan di danau, serta untuk mempertahankan dirinya bila ada serangan lawan. Terlebih ketika agama Kristen belum menyentuh mereka, sering terjadi perang suku atau antarsuku. 19.5 Peserta/Pemain 19.5.1 Jumlah Pemain Peserta permainan filim yalei-yalei tidak dibatasi jumlahnya. Banyaknya pemain bergantung pada sedikit atau banyaknya peminat yang datang pada hari itu.

Intinya jumlah semua pemain itu harus dibagi menjadi tiga kelompok. Misalnya kelompok A jumlahnya 5, begitu pula dengan kelompok B dan C, jumlah pemainnya juga harus 5. Anggota kelompok bisa juga lebih dari lima orang.

Jumlah paling banyak adalah 20 orang per kelompok. 19.5.2 Usia Usia pemain dalam Permainan atau permainan ini biasanya diikuti oleh anak-anak dan remaja dengan rentang usia 7—15 tahun. 19.5.3 Jenis Kelamin Permainan/permainan filim yalei-yalei ini hanya dimainkan oleh anak laki-laki saja. Permainan ini berhubungan dengan permainan latihan memanah dengan akurat dan berhubungan dengan kehidupan atau pekerjaan laki-laki. 19.5.4 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan filim yalei-yalei ini.

Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 19.6 Peralatan/Perlengkapan Peralatan atau perlengkapan yang digunakan dalam permainan filim yalei-yalei adalah sebagai berikut. a) panah sebanyak 1 set terdiri atas 1 buah busur dan anak panah dengan jumlah yang ditentukan bersama misalnya 5 pucuk. b) Busur terbuat dari pohon Nibung atau bambu dengan ukuran 75 cm sampai dengan 1 m. tali busur terbuat dari keratan tali rotan.

Gagang anak panah terbuat dari tumbuhan agar-agar yang panjangnya antara 1—1.25 meter sedangkan besarnya kurang lebih sebesar jari kelingking. Mata anak panah terbuat dari kerapatan kayu besi atau bambu yang diruncingkan bagian depannya. c) Pelepah sagu pelepah sagu dibuat menjadi bentuk bulat sesuai dengan besarnya pelepah sagu tersebut. Jumlahnya sebanyak 1 atau 2 dua Apa yang disebut dengan filim. d) kayu, sebanyak 2 buah dengan ukuran panjangnya antara 10 sampai 20 m yang akan diletakkan melintang pada tempat atau lapangan permainan yang fungsinya adalah sebagai bantalan bagi lemparan filim sehingga apabila filim yang di gelinding atau dilemparkan itu dapat mengenai pada papan bantalan tersebut maka akan terjadilah pantulan yang mengakibatkan filim itu akan meloncat atau terbang ke udara. 19.7 Iringan Permainan Permainan ini tidak terdapat iringan musik nyanyian atau bunyi-bunyian.

Yang digunakan untuk mengiringi permainan ini hanya teriakan atau yel-yel dengan bunyi mbaibelo yang artinya menang. Yel-yel ini ini dapat diteriakkan apabila ada satu regu yang berhasil memanah filim tersebut. 19.8 Aturan permainan Setelah persiapan selesai, dimulailah permainan filim yalei-yalei. Regu A dan regu B yang lebih dahulu bermain atau berhadap-hadapan untuk menentukan regu mana yang bertindak sebagai pengumpan dan regu mana yang terlebih dahulu memanah.

Proses penentuan ini biasanya dilakukan secara aklamasi oleh kedua belah pihak. Contohnya: Ketika regu A akan memanah dan regu B yang akan memberikan umpan atau sebagai pengumpan filim. Semua pemain dari kedua regu sudah harus mengambil posisi pada tempat yang telah ditentukan.

Sementara regu C menunggu giliran main. Pemain regu A bersiap di tempat dengan mengambil posisi berbanjar dengan jarak antara pemain kawan Kurang lebih 1 sampai 2 meter. Begitu juga dengan regu B, kemudian salah seorang pemain regu B secara sukarela akan mengambil filim dan berdiri pada posisi yang ditentukan kemudian menggelindingkan filim ke arah regu A dengan sekencang-kencangnya sehingga filim itu mengenai bantalan kayu dan memantul ke atas.

Ketika filim tersebut memantul ke atas, secara serempak regu A memanah filim yang melayang yang ke atas itu. Apabila ada anak panah yang mengenai filim maka serempak mereka mengucapkan kata mbaibelo. Selanjutnya giliran regu B yang akan memanah dan regu A yang akan menggelinding kan filim.

Untuk mengetahui regu mana yang akan berhadapan dengan regu C maka akan dihitung berapa skor dari masing-masing regu tersebut. Apabila regu A memiliki skor lebih banyak dari regu B, maka regu A akan melawan regu C. Aturan pertandingannya sama ketika regu A melawan dengan regu C. Apabila pertandingan antara regu A dan regu C pemenangnya adalah regu A, maka regu A adalah pemenangnya. Jika regu A kalah melawan regu C maka regu C harus bermain melawan regu B. Jadi hal ini akan berlangsung sampai ada regu yang betul-betul dianggap menang dalam permainan ini. 19.9 Jalannya Permainan a) Persiapan Pada saat dilakukan persiapan hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut. • Satu set panah yang disiapkan sendiri oleh masing-masing pemain. • Filim yang akan disiapkan secara bersama sebanyak satu atau dua buah. • Kayu/batang sagu sebanyak 2 buah yang juga disiapkan secara Bersama. • Pembagian kelompok atau regu yang biasanya antara bagian kampung yang satu dengan Kampung lainnya atau pemain itu sendiri sebanyak tiga kelompok atau regu • Penentuan lapangan tempat permainan harus luas paling tidak seperti lapangan sepak bola. • Bahan makanan mentah berupa hasil kebun yang disiapkan oleh tiap regu atau kelompok sebagai hadiah. b) Inti Permainan Permainan ini biasanya berlangsung sampai beberapa tahap ketika masing-masing regu mendapat giliran sama rata, sehingga tahapannya dapat terlihat seperti berikut ini.

Tahap 1 pertandingan antara regu A melawan regu B. Tahap 2 pertandingan antara pemenang regu A dan regu B melawan regu C. Tahap 3 apabila pemenang dari pertandingan antara regu A dan regu C pemenangnya adalah regu C, maka pada tahap ketiga ini adalah pertandingan antara regu C melawan regu B. Apabila A menang melawan regu C berarti pertandingan hanya sampai pada tahap 2 saja. c) Penentuan Pemenang Dalam pertandingan ini telah disiapkan hadiah berupa hasil kebun.

Regu yang berhasil memenangkan pertandingan akan mendapatkan hadiah hasil kebun tersebut. Biasanya hadiah tersebut tidak akan dinikmati sendiri oleh regu yang menang, akan tetapi akan dimakan secara bersama-sama oleh semua grup yang turut dalam pertandingan. Hal ini disebabkan karena perasaan sosial yang masih kuat di dalam kehidupan masyarakat Sentani.

Pemenang sudah cukup merasa puas dengan kemenangannya. Permainan ini selain merupakan permainan rekreatif juga bersifat kompetitif yang menegangkan. Biasanya apabila pertandingan ini berlangsung penonton terutama anak-anak tidak diperkenankan mendekati lapangan permainan karena berbahaya. 19.10 Peranannya Masa Kini Permainan filim yalei-yalei saat ini sudah tidak memiliki peran lagi karena permainan ini sudah ditinggalkan.

Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, yakni tidak adanya perhatian pemerintah, pengaruh masuknya agama Kristen yang tidak memperkenankan kepercayaan masyarakat yang dianggap tidak bermanfaat sehingga dengan sendirinya permainan ini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan oleh masyarakat Sentani, dan kemajuan atau perkembangan teknologi yang memaksa anak-anak untuk mengubah permainan mereka dari permainan tradisional menjadi permainan modern. 19.11 Tanggapan Masyarakat Permainan filim yalei-yalei sebernarnya masih mendapat tempat di hati masyarakat sehingga sampai saat ini tetap menjadi nostalgia.

Punahnya permainan ini sangat disesalkan oleh masyarakat Sentani sebagai pemilik permainan tradisional filim yalei-yalei. Mereka sangat menyesal karena permainan ini bermanfaat untuk melatih keterampilan anak-anak sehingga ketika dewasa nanti anak-anak akan menjadi terampil memanah dan kelak memenuhi kebutuhan hidup mereka dari hasil berburu. XX.

Hu Kinyei-Kinyei 20.1 Nama permainan Permainan ini bernama hu kinyei-kinyei. Hu kinyei-kinyei terdiri atas dua kata yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Hu dan kinyei-kinyei, hu artinya matahari dan kinyei-kinyei artinya menolak.

Maksud dari permainan ini adalah permainan yang dimainkan saat perpindahan arah matahari dari tenggara ke barat laut. Masyarakat Sentani memiliki kepercayaan bahwa dengan perantaraan permainan tersebut arah matahari akan kembali seperti semula yaitu timur ke barat. Permainan ini ditemukan pada suku Sentani yang berada di Kampung Yahim Distrik Sentani Kabupaten Jayapura. 20.2 Peristiwa Waktu Permainan ini dimainkan pada saat terjadinya peristiwa arah matahari dari tenggara ke barat laut.

Permainan ini dilaksanakan pada pagi hari atau sore hari. 20.3 Latar Belakang Sosial Budaya Masyarakat Sentani sebagai pemilik permainan hu kinyei-kinyei adalah masyarakat yang hidup dari hasil kebun berkebun berburu menangkap ikan. Tinggal di danau Sentani sehingga memilih perahu sebagai alat transportasi. Permainan hu kinyei-kinyei adalah permainan yang menggunakan bahan-bahan alam yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia seperti batang pohon sagu buah dan kelapa.

Permainan ini ada karena diakibatkan oleh kondisi kehidupan masyarakat Sentani yang menggantungkan hidupnya pada alam. Karena bergantung pada alam maka keterampilan dan ketangguhan sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup. Untuk melatih keterampilan dan kecakapan ini mereka membuat permainan tradisional yang berbahan dasar dari alam.

Mereka menggelindingkan buah kelapa dari atas bukit ke arah lembah. Mereka berasumsi bahwa buah kelapa yang menggelinding adalah hewan buruan. Kemudian mereka menombak buah kelapa yang menggelinding dengan cepat tersebut.

Latihan menombak buah kelapa yang menggelinding ini sangat bermanfaat untuk melatih kemahiran dalam berburu. sehingga ketika mereka kelak menjadi dewasa mereka akan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan cara berburu. 20.4 Latar Belakang Sejarah Perkembangannya Permainan ini berkembang secara turun-temurun sejalan dengan berkembangnya peradaban masyarakat Sentani. 20.5 Pemain 20.5.1 Jumlah Pemain Peserta permainan hu kinyei-kinyei kini tidak dibatasi jumlahnya.

Banyak atau sedikit jumlah pemain bergantung pada banyaknya peserta permainan ini yang datang Pada saat itu. Peserta dibagi menjadi dua atau tiga regu. 20.5.2 Usia Pemain Pemain permainan hu kinyei-kinyei berkisar antara 15 sampai dengan 30 tahun. 20.5.3 Jenis Kelamin Permainan hoki hu kinyei-kinyei hanya dimainkan oleh anak laki-laki. Permainan ini merupakan permainan yang banyak membutuhkan kemampuan fisik. hal ini berhubungan dengan pekerjaan kaum laki-laki yang dapat dikaitkan dengan pekerjaan sehari-hari seperti berburu.

Oleh karena itu permainan ini tidak dapat dimainkan oleh kaum perempuan. 20.5.4 Peralatan Permainan Peralatan yang digunakan dalam permainan hu kinyei-kinyei adalah sebagai berikut, tombak terbuat dari kulit pohon sagu dengan ukuran panjang antara 2 sampai dengan 3 m dan buah kelapa kering sebanyak 10 sampai 20 buah. 20.6 Jalannya Pertandingan a) Persiapan Ada beberapa hal yang harus disiapkan ketika akan melakukan permainan hu kinyei-kinyei tombak harus disiapkan oleh masing-masing pemain an sebanyak 1 buah buah kelapa kering disiapkan secara bersama pembagian peserta permainan menentukan lokasi yang akan digunakan untuk menggelindingkan buah kelapa menunjuk seseorang yang bertugas khusus untuk menggelindingkan buah kelapa. b) Aturan Pertandingan Setelah semua persiapan selesai maka dimulailah pertandingan hu kinyei-kinyei.

Pemain permainan ini dibagi menjadi dua kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok B. Petugas penggelinding bola dari kelompok B bersiap di atas bukit. Pemain berunding terlebih dahulu siapa yang akan menembak pertama. Misalnya kelompok A yang akan memulai pertandingan terlebih dahulu dengan demikian pemain regu A mengambil posisi secara berurutan dengan jarak antar kawan sekitar 1 sampai 2 meter di sekitar lereng gunung.

Petugas dari kelompok B menggelindingkan 1 buah kelapa kemudian peserta pertama dari regu A menembak buah kelapa tersebut setelah itu petugas menggelindingkan lagi buah kelapa dan ditembak oleh pemain kedua regu A selanjutnya hingga semua pemain A menembak buah kelapa yang digelindingkan oleh petugas. Buah kelapa tidak digelindingkan sekaligus tetapi digelindingkan satu persatu sesuai dengan urutan para pemain. Ketika sepuluh buah kelapa telah digelindingkan dan kelompok penombak telah menombak, kelompok berikutnya mendapat giliran untuk menombak. c) Konsekuensi Kalah Menang Dalam permainan hu kinyei-kinyei tidak ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Permainan ini hanya menitikberatkan pada latihan untuk mengasah keterampilan berburu. Setelah permainan selasai para orang tua memberikan arahan atau nasihat tentang berlangsungnya permainan. Pemain yang tidak berhasil menombak buah kelapa diberi motivasi untuk terus berlatih dan belajar.

Sementara pemain yang berhasil juga diberi nasihat untuk tidak cepat merasa puas dan menyombongkan diri. XXI. Mokhone Oro Habele-Habele 21.1 Nama Permainan Permainan ini dalam bahasa Sentani bernama mokhone oro habele-habele.

Moknone artinya gunung, oro berarti kaki, dan habele-habele artinya mengejar. Mokhone oro habele-habele dapat diartikan sebagai perlombaan mengejar gunung. Mengejar gunung berarti berlari ke arah gunung setelah mendengar bunyi tiupan kulit kerang (amin) dari arah Gunung Robongholo.

Permainan ini dimainkan oleh masyarakat Sentani yang tinggal di sekitar sebelah selatan Gunung Robongholo, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. 21.2 Peristiwa/Waktu Permainan mokhone oro habele-habele dilakukan pada siang bertujuan untuk Sarana aktualisasi kemampuan fisik yang sehat dan prima dengan melibatkan alam. 21.3 Latar Belakang Sejarah dan Perkembangannya Bentang alam Sentani yang terdiri atas gunung, lembah, sungai, dan danau membuat masyarakat yang tinggal di sekitarnya sangat bergantung dengan alam.

Masyarakat memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan hidup itu dibutuhkan tenaga yang besar. Salah satu upaya untuk melatih tubuh agar kuat dan sehat dalam bekerja diadakan suatu permainan.

Permainan yang bertujuan untuk membentuk fisik danmental menjadi kuat. Permainan itu adalah mokhone oro habele-habele atau kejar gunung. 21.4 Peserta/Pemain 21.4.1 Jumlah Pemain Permainan ini tidak ditentukan jumlah pemainnya. Bergantung pada jumlah pemuda yang saat itu sedang berada di kebun-kebun atau dusun-dusun yang berada di sekitar Gunung Robongholo serta mendengar seruan bunyi amin yang ditiupkan. 21.4.2 Aturan Permainan Aturan dalam permainan mokhone oro habele-habele sangat sederhana.

Peserta hanya berlari menuju arah bunyi amin (kulit kerang) yang ditiup dari arah gunung. Peserta yang berhasil mencapai sumber bunyi terlebih dahulu dinyatakan sebagai pemenang. 21.4.3 Usia dan Jenis Kelamin Permainan mokhone oro habele-habele biasanya diikuti para pemuda dengan jenis kelamin laki-laki. 21.4.4 Kelompok Sosial Siapa saja dapat memainkan permainan mokhone oro habele-habele ini. Tidak ada kelompok sosial tertentu yang membatasi permainan ini. 21.5 Perangkat Permainan Perangkat permainan mokhone oro habele-habele terdiri atas beberapa, yaitu: a) abu arai (tetua adat), pemimpin pertandingan yang bertugas memberikan arahan, wejangan, dan memberikan apresiasi atas kemenangan peserta; b) amin ro (peniup amin/kulit kerang); c) wakhu (tifa), ditabuh oleh pemenang sebagai tanda kemenangan; dan d) mahkota yang terbuat dari dedaunan yang diberikan kepada pemenang. 21.6 Jalannya Permainan d) Persiapan Amin ro meniup amin sebanyak tiga kali.

Jarak jeda antara tiupan pertama dengan tiupan kedua, dan ketiga sekitar satu sampai dua menit. Bunyi tiupannya adalah tut, tut, tututut. e) Inti Permainan Para pemuda yang tengah bekerja di kebun-kebun mereka mendengar bunyi tiupan amin akan menunggu apakah bunyi amin itu diulang sebanyak tiga kali atau tidak. Jika terdengar tiga kali, mereka sudah paham akan diadakan perlombaan mokhone oro habele-habele.

Pemuda yang mendengar dan berniat mengikuti lomba akan menyahut dengan membalas bunyi tiupan amin dengan mokhone oro habele-habele juga. Bagi pemuda yang yang tidak berniat untuk mengikuti lomba tidak menyahut. Setelah itu para pemuda segera meninggalkan pekerjaan dan segera berlari ke arah sumber bunyi.

Mereka berlari melalui sungai, padang ilalang, dan hutan yang penuh dengan bebatuan. Berbagai rintangan mereka lalui untuk mencapai sumber bunyi. Mereka berlari tidak mengenakan alas kaki dan bertelanjang dada.

Kadang kala kaki, tangan, dan badan tergores oleh semak belukar, duri rotan, atau batu-batu yang tajam. Ketika keringat telah membasahi badan barulah mereka tiba di sumber bunyi di salah satu bukit di lereng Gunung Robongholo. f) Penentuan Pemenang Di sebuah bukit yang tinggi di lereng Gunung Robongholo telah berdiri abu arai dan amin ro. Amin ro membawa tiga buah mahkota daun yang akan disematkan kepada tiga pemenang yang berhasil mencapai sumber bunyi terlebih dahulu.

Di hadapan abu arai terdapat sebuah tifa. Setelah semua peserta lomba telah berkumpul di hadapan abu arai, mulailah abu arai memberikan nasihat, wejangan, dan penghargaan kepada pemuda yang telah mengikuti perlombaan mokhone oro habele-habele. Setelah itu ia menyematkan mahkota daun kepada ketiga pemenang.

Setelah itu, pemenang pertama diberi kesempatan untuk menabuh tifa. Ketika tabuhan tifa berbunyi semua peserta mulai menari. 21.7 Peranannya Masa Kini Permainan tradisional ini sangat baik untuk melatih daya tahan tubuh. Selain itu, permainan ini juga bertujuan untuk membentuk fisik danmental menjadi kuat.

Masyarakat Sentani berharap permainan tradisional ini tetap lestari dan dapat dijadikan sarana untuk memupuk rasa kebersamaan dan kesetiakawanan.

Links

Where it is published

Catalogue records · 1

Topics

Provenance · 1 source records, 5 field assertions
SourceKeyLast seenRaw
RIN Data Repositoryhdl:20.500.12690/RIN/1NCZQO9 d agoJSON v1
FieldAssertionExtractorEvidence
concepts[field].local:field:earth-environmentalmapping · rin brin go idconnector:rin_brin_go_id@1.0.0
concepts[field].local:field:humanitiesmapping · rin brin go idconnector:rin_brin_go_id@1.0.0
descriptionsource · rin brin go idconnector:rin_brin_go_id@1.0.0/metadata/dc/description
publication_datesource · rin brin go idconnector:rin_brin_go_id@1.0.0
titlesource · rin brin go idconnector:rin_brin_go_id@1.0.0/metadata/dc/title